Sunday, 29 November 2015

Panggil Saya Sekar 1 -- Ephemera





Biarkan hujan menyapu keresahan,
dan lelapkan akal gila sang pemberontak.
Biarkan ketegaran melukis kebisingan,
dan membelai panas di otak.
Di mana letak kebenaran?
Apakah dekat dengan kebohongan?
Perlukah pula ada tangisan,
bila ingin menempuh impian? 
Saya lelah tapi tak boleh nyerah.
Saya resah tapi tak boleh pasrah.
Saya tak punya nyali tapi harus berani.
Sebentar saja, pinjam bahumu.
Bukan untuk memulai nafsu.
Tapi untuk redakan pilu.
Pengap, sayangnya kau bukan tulangku.
Duduklah di sini sayangku.
Biar kupandang wajahmu,
dan kukecup senyummu.


♠♠♠
  
Panggil Saya, Sekar

Oktober 1997 - Keadilan? Itu adalah bagian dari sebuah mikrokosmos. Tapi kini kebisingan dari suatu kericuhan menyulut tungku api yang mampu membakar emosi. Seperti halnya keadaan saat ini. Cucuran peluh dan guyuran kata-kata seakan tak mampu puaskan dahaga. Seperti berkering air liur. Sampai mulut berbusa atau aksi anarkis terjadi, keadilan tak juga nampak dalam sudut suatu kaum.
Sore ini mulut-mulut masih meracau. Membahas konsep rencana peregerakan tadi pagi. Gagal! Itu yang kami dapat. Aparat terlalu cerdik dan kami kalah. Mungkin lebih tepatnya bukan kalah, hanya mengalah. Bagaimana tidak, usaha mereka untuk membungkam mulut kami pun begitu besar.  Kami dianggap seperti kencing yang perlu diguyur.
Di sudut ruangan Senat, saya masih duduk sembari menulis. Yah, hanya ini yang dapat menghibur. Bising, tapi tidak mengganggu konsentrasi. Di ruang Senat inilah kami melakukan segala aktivitas pergerakan. MPR (Mahasiswa Pembela Rakyat) itu nama organisasi kecil kami.
Sesekali saya melihat keadaan sekitar. Teman-teman yang lain saling berkumpul hingga membentuk beberapa kelompok. Seperti biasa, mata itu masih menatap begitu prihatin ke arah saya. Senyumnya sempurna membuat saya kembali menunduk.
Ah, rasa-rasanya saya terlalu besar kepala!
Hidup adalah pilihan. Ketika kita memilih sesuatu yang menurut kita benar, boleh jadi suatu saat kita akan menangisi apa yang telah kita pilih karena terlanjur sadar bahwa itu adalah salah. Tapi bukankah memang selalu begitu? Sebelum kita menikmati suatu kebenaran, maka kita pun akan mencicipi kesalahan terlebih dahulu. Sebut saja itu proses pembelajaran. Dan hari ini kami belajar tentang semuanya.
“Wan, bagaimana ini? Aspirasi harus tersampaikan, bukan?” seseorang di depan saya terlihat memasang wajah sebal. Tangannya tak henti memukul-mukul meja dengan proposal rencana pergerakan.
Saya diam, lanjut menulis. Benar-benar menyebalkan. Lagi pula saya lelah, tapi ia terus saja ngoyo. Ini waktu istirahat. Bukankah esok masih ada waktu? Banyak ide yang bisa kita hasilkan lagi. Hari ini boleh saja gagal, tapi esok pasti akan lebih dahsyat.
“Wan, saya bicara denganmu!” katanya, lalu jongkok di depan saya.
Saya mendongak, menatap wajah lusuhnya yang masih penuh emosi, kemudian saya jitak kepalanya. Ia mengaduh sakit.
Berhentilah meracau, berpikirlah dengan kepala dingin!”
Ia diam, memegangi kepalanya. Saya tahu semua kecewa. Tapi untuk apa kita berpikir dengan otak yang masih panas? Sedangkan, ide terbaik dihasilkan dari pikiran yang jernih. Kita pasti bisa.
“Kau lapar, makanya terus meracau.”
“Heheheh, dari mana kau tahu, Wan?” katanya sembari melirik begitu genit pada saya.
“Berhenti menatap saya seperti itu. Ayo ikut!”
Saya berjalan keluar dari ruang Senat. Ia pun mempercepat langkah, mengekor pada saya. Sore yang gaduh. Tapi wajah-wajah sudah kembali sumringah. Mahasiswa dan mahasiswi pun sudah pada bersiap pulang. Beberapa terlihat sibuk bercanda dengan teman-temannya.
Teman?
Kesendirian adalah teman yang paling setia. Selama ini saya tak pernah punya teman yang dekat. Kalau pun ada hanyalah teman biasa, seperti seseorang yang sedang berjalan di belakang saya. Namanya Edi. Kami satu kelas di Fakultas Sastra. Ia menjabat sebagai koordinator pergerakan dalam MPR.
Aktif, setia kawan, dan terkadang gila. Tapi jika sudah dihadapkan dengan makhluk yang bernama wanita, maka diam adalah keahliannya. Ia seperti kerupuk yang dicelup ke dalam air. Lembek! Hanya bisa pasrah jika perempuan menjejal pikirannya dengan perkataan manja dan cinta basa-basi.
Kemarin saya kencan dengan Mira. Menurutmu bagaimana, Wan?
Begitu pertanyaan yang ia ajukan setiap kali sedang dimabuk asmara dengan gadisnya. Ia akan terus berbicara sembari mendesak saya untuk memberikan sebuah komentar. Membingungkan, lagi pula apa hubungan urusan asmaranya dengan saya? Dan perlukah saya tahu kehidupan cintanya?
Cinta?
Daripada membahas cinta, saya justru lebih senang membahas tentang kaum proletar atau sembari menghina kaum kapitalis yang tak juga sadar. Bagaimana bisa kelompok kapitalis seperti itu dibiarkan hidup? Saya benci mereka! Waktu terus saja berlalu, tapi negara tak juga berubah. Malah makin banyak tumbuh kecambah kapitalis borjuis yang culas dan kapitalis birokrat. Lalu apakah proletar akan terus dianggap sebagai parasit yang bisa diinjak dan dibuang?
Hah, saya muak!
Semilir angin berhembus menelisik di sela-sela anak rambut, mengusap gerah. Lagi-lagi senyum itu melintas di hadapan saya. Entah dari mana ia, tiba-tiba saja sudah berdiri menyapa saya dan Edi. Padahal tadi masih duduk dengan kelompoknya di ruangan Senat.
“Wan, saya pulang duluan. Proposal yang kau minta kemarin sudah saya letakkan di meja. Semoga kau tidak keberatan dengan ide yang saya ajukan.”  
“Oh iya, terima kasih.” Kata saya datar.
Senyumnya berlalu meninggalkan saya dan Edi. Ramah, membuat mata enggan berkedip. Langkah kakinya anggun menghitung sepetak demi sepetak lantai.
“Wan, kaku sekali kau jadi lelaki. Harusnya tadi kau berbasa-basi sedikit dengannya.” Kata Edi mengajari saya.
“Diamlah, Ed dan cepatlah jalan!”
            Sampai di sebuah warung makan. Di tenda kecil pinggir jalan dekat dengan gerbang kampus, kami berhenti. Mengisi perut sembari membenahi otak. Edi terlihat begitu senang sekali. Tangannya yang masih kotor pun langsung mencomot beberapa gorengan. Senyum dari penjual terlukis begitu menyenangkan. Sambutan yang ramah untuk calon pembeli. Sepertinya kami pembeli pertamanya.
            Saya duduk dan meletakkan ransel. Berat! Tapi saya suka buku-buku filsafat yang setiap hari memenuhi ransel. Bukan saya sok pintar, atau agar terlihat keren di mata para gadis, tapi buku adalah pacar saya.
            Mendung, langit gelap seperti nasib para proletar negeri. Awan juga kelabu, seperti saya yang terus berkecamuk dengan berbagai masalah. Hari ini rasanya lelah tapi saya belum melakukan apa-apa.
            Saya menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa penat.
Tutup dandang dibuka oleh pemilik warung. Asap pun mengepul. Harum kuah soto tercium begitu menggugah selera. Tangan si penjual begitu cekatan menuangkan soto ke dalam mangkuk. Rasanya perut ini makin keroncongan. Edi masih terlihat sibuk dengan beberapa camilan di hadapannya. Entah sudah berapa yang ia telan.
Akhirnya pesanan siap. Tanpa basa-basi, saya pun segera menyantapnya. Rasanya nikmat sekali, mungkin karena begitu lapar.
            “Wan, bagaimana hubunganmu dengan Sekar?”
Mendadak pertanyaan Edi membuat saya sulit menelan makanan yang tengah saya kunyah. Ada apa? Kenapa mendadak membicarakan gadis itu? Saya diam, tidak menjawab. Melanjutkan kunyahan yang sempat terhenti kemudian menelannya. Edi terus saja berbicara.
“Selain Sekar, sepertinya gadis tadi juga menyukaimu.” Katanya makin ngawur.
Saya masih diam enggan menanggapi. Jalanan sepi. Tak ada kendaraan bermotor atau bus yang lewat. Hanya terdengar suara hujan yang mulai lebat, membuat atap tenda warung sedikit bocor, tidak kuat menampung air. Saya terpaksa bergeser dan lebih merapat ke sebelah Edi. Basah! Angin juga berhembus cukup kencang.
“Tidakkah sebagai lelaki kau peka akan itu, Wan?” Edi berbicara lebih serius.
“Haruskah?”
“Iya, wanita menginginkan pria yang bergerak terlebih dahulu untuk menyatakan cinta.”
“Kau selalu membahas cinta. Saya bosan, Ed.”
“Hey! Manusia butuh cinta, Wan.” Katanya meyakinkan.
Hujan semakin liar menari-nari dengan rintiknya. Dingin, membuat tubuh yang tadinya penuh keringat jadi menggigil. Aroma aspal jalanan yang bercampur dengan bulir air pun seolah menyejukkan. Sebenarnya saya suka jika hujan turun. Cukup begini saja, menikmati dingin. Entahlah, rasanya seperti ada luka yang terobati.
Edi, jika saya tanya tentang apa arti cinta, maka ia akan menjawab, cinta adalah Mira, cinta adalah Ani, dan seterusnya. Aneh! Itu artinya pengertian cinta menurut Edi ada beberapa versi. Jika dalam satu atau dua bulan ia berganti pasangan bisa tiga kali. Maka sudah bisa dipastikan, cinta menurutnya adalah hal yang gila dan sesuatu yang dapat berubah-ubah. Absurd! Seharusnya ia mengartikan bahwa cinta adalah wanita.
Ada satu lagi definisi teraneh menurutnya. Wanita adalah obat kesendirian. Saya rasa otaknya perlu dibenahi.
“Awaaan!”
Dari riuh suara hujan, saya mendengar seorang wanita tengah memanggil nama saya. Ternyata dari seberang gerbang kampus. Ia berlari-lari kecil. Terlihat begitu repot sembari memegangi payung dan tasnya. Ah, sial!
“Ed, saya hutang dulu. Kau yang bayar.”
Saya langsung buru-buru pergi, meninggalkan wajah sumringah Edi yang memudar. Tak peduli hujan akan membuat saya basah kuyup. 
♠♠♠

(bersambung . . .)

Categories:

2 comments:

  1. Biarkan hujan menyapu keresahan,
    dan lelapkan akal gila sang pemberontak.
    Lumayan kata-katanya.

    ReplyDelete