Biarkan
hujan menyapu keresahan,
dan
lelapkan akal gila sang pemberontak.
Biarkan
ketegaran melukis kebisingan,
dan
membelai panas di otak.
Di mana
letak kebenaran?
Apakah
dekat dengan kebohongan?
Perlukah
pula ada tangisan,
bila
ingin menempuh impian?
Saya lelah tapi tak boleh
nyerah.
Saya resah tapi tak boleh
pasrah.
Saya tak punya nyali tapi harus berani.
Sebentar saja, pinjam bahumu.
Bukan untuk memulai nafsu.
Tapi untuk redakan pilu.
Pengap, sayangnya kau bukan
tulangku.
Duduklah di sini sayangku.
Biar kupandang wajahmu,
dan kukecup senyummu.
♠♠♠
Panggil Saya, Sekar
Oktober
1997 - Keadilan? Itu adalah bagian dari sebuah mikrokosmos. Tapi
kini kebisingan dari suatu kericuhan menyulut tungku api yang mampu membakar
emosi. Seperti halnya keadaan saat ini. Cucuran peluh dan guyuran kata-kata
seakan tak mampu puaskan dahaga. Seperti berkering air liur. Sampai mulut
berbusa atau aksi anarkis terjadi, keadilan tak juga nampak dalam sudut suatu
kaum.
Sore ini mulut-mulut masih meracau. Membahas konsep rencana peregerakan
tadi pagi. Gagal! Itu yang kami dapat. Aparat terlalu cerdik dan kami kalah.
Mungkin lebih tepatnya bukan kalah, hanya mengalah. Bagaimana tidak, usaha mereka
untuk membungkam mulut kami pun begitu besar. Kami dianggap seperti kencing yang perlu diguyur.
Di sudut ruangan Senat, saya masih duduk sembari menulis. Yah, hanya ini yang dapat
menghibur. Bising, tapi tidak mengganggu konsentrasi. Di ruang Senat inilah
kami melakukan segala aktivitas pergerakan. MPR (Mahasiswa Pembela Rakyat) itu
nama organisasi kecil kami.
Sesekali saya melihat keadaan sekitar. Teman-teman yang lain saling
berkumpul hingga membentuk beberapa kelompok. Seperti biasa, mata itu masih menatap begitu prihatin ke arah
saya. Senyumnya sempurna membuat saya kembali menunduk.
Ah, rasa-rasanya saya terlalu besar kepala!
Hidup adalah pilihan. Ketika kita memilih sesuatu yang menurut kita
benar, boleh jadi suatu saat kita akan menangisi apa yang telah kita pilih
karena terlanjur sadar bahwa itu adalah salah. Tapi bukankah memang selalu
begitu? Sebelum kita menikmati suatu kebenaran, maka kita pun akan mencicipi
kesalahan terlebih dahulu. Sebut saja itu proses pembelajaran. Dan hari ini
kami belajar tentang semuanya.
“Wan, bagaimana ini? Aspirasi harus tersampaikan, bukan?” seseorang di depan saya
terlihat memasang wajah sebal. Tangannya tak henti memukul-mukul meja dengan
proposal rencana pergerakan.
Saya diam, lanjut menulis. Benar-benar menyebalkan. Lagi pula saya
lelah, tapi ia terus saja ngoyo. Ini waktu istirahat. Bukankah esok masih ada
waktu? Banyak ide yang bisa kita hasilkan lagi. Hari ini boleh saja gagal, tapi
esok pasti akan lebih dahsyat.
“Wan, saya bicara denganmu!” katanya, lalu jongkok di depan saya.
Saya mendongak, menatap wajah lusuhnya yang masih penuh emosi, kemudian saya jitak kepalanya. Ia mengaduh sakit.
“Berhentilah meracau, berpikirlah dengan kepala
dingin!”
Ia diam, memegangi kepalanya. Saya tahu semua kecewa. Tapi untuk
apa kita berpikir dengan otak yang masih panas? Sedangkan, ide terbaik dihasilkan dari pikiran yang jernih. Kita pasti bisa.
“Kau lapar, makanya terus meracau.”
“Heheheh, dari mana kau tahu, Wan?” katanya sembari melirik begitu
genit pada saya.
“Berhenti menatap saya seperti itu. Ayo ikut!”
Saya berjalan keluar dari ruang Senat. Ia pun mempercepat langkah, mengekor pada
saya. Sore yang gaduh. Tapi wajah-wajah sudah kembali sumringah. Mahasiswa dan
mahasiswi pun sudah pada bersiap pulang. Beberapa terlihat sibuk bercanda
dengan teman-temannya.
Teman?
Kesendirian adalah teman yang paling setia. Selama ini saya tak
pernah punya teman yang dekat. Kalau pun ada hanyalah teman biasa, seperti
seseorang yang sedang berjalan di belakang saya. Namanya Edi. Kami satu kelas
di Fakultas Sastra. Ia menjabat sebagai koordinator pergerakan dalam MPR.
Aktif, setia kawan, dan terkadang gila. Tapi jika sudah dihadapkan dengan makhluk
yang bernama wanita, maka diam adalah keahliannya. Ia seperti
kerupuk yang dicelup ke dalam air. Lembek! Hanya bisa pasrah jika perempuan
menjejal pikirannya dengan perkataan manja dan cinta basa-basi.
Kemarin saya kencan dengan
Mira. Menurutmu bagaimana, Wan?
Begitu pertanyaan yang ia ajukan setiap kali sedang dimabuk asmara
dengan gadisnya. Ia akan terus berbicara sembari mendesak saya untuk memberikan
sebuah komentar. Membingungkan, lagi pula apa hubungan urusan asmaranya dengan
saya? Dan perlukah saya tahu kehidupan cintanya?
Cinta?
Daripada membahas cinta, saya justru lebih senang membahas tentang
kaum proletar atau sembari menghina kaum kapitalis yang tak juga sadar.
Bagaimana bisa kelompok kapitalis seperti itu dibiarkan hidup? Saya benci
mereka! Waktu
terus saja berlalu, tapi negara tak juga berubah. Malah makin banyak
tumbuh kecambah kapitalis borjuis yang culas dan kapitalis birokrat. Lalu
apakah proletar akan terus dianggap sebagai parasit yang bisa diinjak dan
dibuang?
Hah, saya muak!
Semilir angin berhembus menelisik di sela-sela anak rambut,
mengusap gerah. Lagi-lagi senyum itu melintas di hadapan saya. Entah dari mana
ia, tiba-tiba saja sudah berdiri menyapa saya dan Edi. Padahal tadi masih duduk
dengan kelompoknya di ruangan Senat.
“Wan, saya pulang duluan. Proposal yang kau minta kemarin sudah
saya letakkan di meja. Semoga kau tidak keberatan dengan ide yang saya ajukan.”
“Oh iya, terima kasih.” Kata saya datar.
Senyumnya berlalu meninggalkan saya dan Edi. Ramah, membuat mata
enggan berkedip. Langkah kakinya anggun menghitung sepetak demi sepetak lantai.
“Wan, kaku sekali kau jadi lelaki. Harusnya tadi kau berbasa-basi
sedikit dengannya.” Kata Edi mengajari saya.
“Diamlah, Ed dan cepatlah jalan!”
Sampai di sebuah warung makan. Di
tenda kecil pinggir jalan dekat dengan gerbang kampus, kami berhenti. Mengisi
perut sembari membenahi otak. Edi terlihat begitu senang sekali. Tangannya yang
masih kotor pun langsung mencomot beberapa gorengan. Senyum dari penjual terlukis begitu
menyenangkan. Sambutan yang ramah untuk calon pembeli. Sepertinya kami pembeli pertamanya.
Saya duduk
dan meletakkan ransel. Berat! Tapi saya suka buku-buku filsafat yang setiap
hari memenuhi ransel. Bukan saya sok pintar, atau agar terlihat keren di mata
para gadis, tapi buku adalah pacar saya.
Mendung, langit gelap seperti nasib
para proletar negeri. Awan juga kelabu, seperti saya yang terus berkecamuk dengan
berbagai masalah. Hari ini rasanya lelah tapi saya belum melakukan apa-apa.
Saya
menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa penat.
Tutup dandang dibuka oleh pemilik warung. Asap pun mengepul. Harum kuah
soto tercium begitu menggugah selera. Tangan si penjual begitu cekatan
menuangkan soto ke dalam mangkuk. Rasanya perut ini makin keroncongan. Edi
masih terlihat sibuk dengan beberapa camilan di hadapannya. Entah sudah berapa yang ia
telan.
Akhirnya pesanan siap. Tanpa basa-basi, saya pun segera menyantapnya. Rasanya nikmat sekali, mungkin karena begitu lapar.
“Wan, bagaimana hubunganmu dengan Sekar?”
Mendadak pertanyaan Edi membuat saya sulit menelan makanan yang
tengah saya kunyah. Ada apa? Kenapa mendadak membicarakan gadis itu? Saya diam,
tidak menjawab. Melanjutkan kunyahan yang sempat terhenti kemudian menelannya. Edi
terus saja berbicara.
“Selain Sekar, sepertinya gadis tadi juga menyukaimu.” Katanya makin ngawur.
Saya masih diam enggan menanggapi. Jalanan sepi. Tak ada kendaraan bermotor atau
bus yang lewat. Hanya terdengar suara hujan yang mulai lebat, membuat atap
tenda warung sedikit bocor, tidak kuat menampung air. Saya terpaksa bergeser
dan lebih merapat ke sebelah Edi. Basah! Angin juga berhembus cukup kencang.
“Tidakkah sebagai lelaki kau peka akan itu, Wan?” Edi berbicara
lebih serius.
“Haruskah?”
“Iya, wanita menginginkan pria yang bergerak terlebih dahulu untuk
menyatakan cinta.”
“Kau selalu membahas cinta. Saya bosan, Ed.”
“Hey! Manusia butuh cinta, Wan.” Katanya meyakinkan.
Hujan semakin liar menari-nari dengan
rintiknya. Dingin,
membuat tubuh yang tadinya penuh keringat jadi menggigil. Aroma aspal jalanan
yang bercampur dengan bulir air pun seolah menyejukkan. Sebenarnya saya suka jika hujan turun. Cukup begini saja, menikmati
dingin. Entahlah, rasanya seperti ada luka yang terobati.
Edi, jika saya tanya tentang apa arti cinta, maka ia
akan menjawab, cinta adalah Mira, cinta adalah Ani, dan seterusnya. Aneh! Itu artinya pengertian cinta menurut Edi ada
beberapa versi. Jika dalam satu atau dua bulan ia berganti pasangan bisa tiga
kali. Maka sudah bisa dipastikan, cinta menurutnya adalah hal yang gila dan
sesuatu yang dapat berubah-ubah. Absurd! Seharusnya ia mengartikan bahwa
cinta adalah wanita.
Ada satu lagi definisi teraneh menurutnya. Wanita adalah obat
kesendirian. Saya rasa otaknya perlu dibenahi.
“Awaaan!”
Dari riuh suara hujan, saya mendengar seorang wanita tengah memanggil nama saya. Ternyata
dari seberang gerbang kampus. Ia berlari-lari kecil. Terlihat begitu repot
sembari memegangi payung dan tasnya. Ah, sial!
“Ed, saya hutang dulu. Kau yang bayar.”
Saya langsung buru-buru pergi, meninggalkan wajah sumringah Edi yang memudar.
Tak peduli hujan akan membuat
saya basah kuyup.
♠♠♠
(bersambung . . .)








Biarkan hujan menyapu keresahan,
ReplyDeletedan lelapkan akal gila sang pemberontak.
Lumayan kata-katanya.
terima kasih :)
Delete