Tok tok
tok, suara orang mengetuk pintu.
“Selamat sore Tante, Awan ada?”
Saya tahu itu suara siapa. Nekad sekali
sampai menyusul ke rumah. Saya pun keluar menemuinya, tak enak dengan Bibi Mey.
Pikirannya pasti sudah aneh-aneh, karena selama ini saya tak pernah bercerita
atau bahkan membawa teman gadis untuk
main ke rumah.
“Kalian bicara saja berdua, biar Bibi
buatkan minum.” Kata Bibi Mey begitu ramah lalu berlalu ke dalam.
Senyum gadis itu masih saja cengengesan.
Merasa tak punya salah.
“Kau tidak malu datang ke rumah seorang
lelaki sendirian?”
“Untuk apa malu? Lagi pula itu salahmu,
suruh siapa kau lari begitu melihat saya.” Katanya sambil memanyunkan bibir
mungilnya.
“Saya tidak lari. Tadi hanya ada urusan
mendadak.”
“Bohong! Memangnya
kenapa si, Wan? Kau melihat saya seperti melihat setan saja.”
“Itu karena kau . . .”
“Apa?” katanya memotong pembicaraan. Matanya
sempurna menatap saya begitu dekat. Jarak kami bahkan hanya sejengkal saja.
“Silakan diminum.” Bibi Mey tiba-tiba datang
mengejutkan kami. Refleks gadis itu pun menjauh dari saya. Senyumnya menyambut
Bibi Mey begitu sumringah, sok kenal bahkan begitu ingin akrab. Untung saja
Bibi Mey masih banyak pekerjaan, jadi tak perlu lama-lama menanggapi gadis gila
ini.
“Kau hanya tinggal dengan Bibi Mey saja ya,
Wan?”
Gadis itu pun mulai mengulik kehidupan
pribadi saya. Mungkin baginya penting sekali. Dulu pernah saya bertanya, mengapa
ia harus terus mengurusi kehidupan saya. Ia bilang saya begitu berarti untuk
dirinya. Yah, saya memang tinggal dengan Bibi Mey saja. Beliaulah yang sudah
merawat saya sedari kecil. Ibu saya meninggal ketika melahirkan saya. Sejak saat itu saya besar
atas didikan Ayah. Dan saat usia saya 9 tahun Ayah
pun pergi.
Ayah saya dulu seorang jurnalis yang cukup
hebat. Namun sayang, kejadian itu membungkam semua karyanya. Ketika subuh baru
saja menyingsing dan mulai menyembulkan harapan cerah, saya dan Ayah berangkat
ke langgar untuk sholat subuh bersama. Namun baru beberapa langkah kami keluar
rumah, dengan posisi Ayah menggandeng tangan saya, tiba-tiba suara ledakan itu
terdengar begitu keras. Tembakan itu begitu sadis menembus kepala Ayah. Mengerikan! Beliau jatuh tersungkur
berlumur darah tepat di depan mata saya.
Menjerit histeris dan menangis, saya memeluk
Ayah. Kata-kata terakhirnya bahkan masih saya ingat. Selalu terngiang di
telinga, lirih menyayat hati. “Kau harus
jadi orang hebat dan tegakkanlah selalu keadilan.” Begitu yang terdengar,
hingga bibirnya mengatup usai membaca dua kalimat Syahadat di sela-sela mautnya.
Di
subuh yang cukup remang itu saya sempat melihat orang yang menembak Ayah. Ia
memakai baju serba hitam, seperti seragam khusus. Entah siapa, sayangnya saya
tidak terlalu jelas lihat wajahnya. Ketika beranjak dewasa, saya baru mengerti
tentang apa yang terjadi. Kata Bibi Mey, Ayah terlalu berani menentang pemerintah.
Itu sebabnya beliau dieksekusi.
Tapi jujur, apa yang saya lakukan sekarang bukan
karena semata-mata saya punya dendam pada mereka yang sudah membungkam aksi
Ayah. Tapi karena saya juga ingin menegakkan keadilan. Negeri ini terlalu
banyak sampah, dan kita tak boleh nyerah.
Sampai sekarang, setiap saya mengikuti apa
yang Ayah lakukan dulu. Entah itu menulis, mengkritik, berdemo memimpin ribuan
massa, Bibi Mey selalu khawatir. Beliau bilang tak ingin kehilangan saya seperti saat beliau kehilangan
Ayah.
Ayah adalah kakak satu-satunya yang beliau
miliki. Bibi Mey pun sekarang hidup sendirian. Lima tahun lalu suaminya pergi.
Katanya tak betah dengan Bibi Mey yang tak bisa punya keturunan.
Tiap hari juga, dulu saya sering melihat paman memukuli
Bibi Mey, tanpa ampun. Pernah sekali saking saya tak tahan dengan kelakuan
paman, saya pukul ia. Seenaknya saja pulang dalam keadaan mabuk habis kencan
dengan wanita lain, lalu menyiksa Bibi Mey. Tiga hari setelah kejadian itu paman
pergi dan tidak pernah kembali lagi hingga sekarang. Tapi saya rasa itu lebih
baik, jadi Bibi Mey tak perlu lagi menghadapi kegilaan paman.
Gadis
itu masih menyimak cerita saya. Matanya berkaca-kaca, menatap saya begitu
prihatin.
“Wan, saya tak menyangka kau punya kisah
yang begitu menyedihkan.” Katanya sembari mengusap ujung matanya yang berair.
“Kau mendengar cerita saya seperti nonton
drama saja. Tak usahlah berlebihan.”
Ia tersenyum sembari membelai wajah saya
dengan lembut.
“Wan, saya janji akan terus menjadi orang
yang selalu ada untukmu.”
“Kenapa?”
“Karena saya mencintaimu, Wan.” Katanya,
lalu mengecup pipi saya.
Malam pun datang membuyarkan semua kekakuan.
Hujan juga sudah tidak turun lagi. Saya mengantarnya pulang. Jalan kaki, dan
kami terlihat seperti pasangan yang sedang menikmati malam bersama. Menyedihkan,
kenapa ia harus seperti itu pada saya? Berlebihan dan saya tak akan bisa balas.
Tiga puluh menit, ia terus berjalan sambil
menggandeng lengan saya. Tak berhenti tersenyum. Wajahnya bersinar seperti
bintang di langit sana. Hatinya berbunga.
Sesampainya di rumah, ia masih memandang
wajah saya begitu senang. Masih dengan posisi tangannya yang terus saja
menggandeng lengan saya.
“Masuklah ke dalam dan segeralah tidur!”
Kata saya sedikit perhatian.
Ia malah tertawa begitu genit.
“Hahahah, ini baru jam 19.00 Wan, saya belum
ngantuk. Kau tak ingin mampir? Biar saya buatkan kopi. Papa pasti senang
melihatmu. Papa bahkan selalu memuji tulisan-tulisanmu.”
“Tidak, lain kali saja.”
Ia tersenyum datar, lalu diam sejenak. Mata
kami pun saling beradu pandang.
“Wan, bisakah kau panggil nama saya? Selama
ini saya tak pernah mendengarmu memanggil nama saya.” Pintanya, membuat saya
merasa kasihan.
“Masuklah! Udara di luar dingin, kau bisa
sakit.”
“Tidak, sebelum kau panggil nama saya.” Ia
berdiri kaku begitu manja, matanya melotot galak pada saya.
“Hmm, baiklah. Selamat malam, Sekar.”
Gadis itu tersenyum begitu riang seperti
mendapat kado yang indah dari seorang lelaki.
♠♠♠
(bersambung . . .)








0 comments:
Post a Comment