Sunday, 29 November 2015

Panggil Saya Sekar 2 -- Ephemera






Tok tok tok, suara orang mengetuk pintu.
“Selamat sore Tante, Awan ada?”
Saya tahu itu suara siapa. Nekad sekali sampai menyusul ke rumah. Saya pun keluar menemuinya, tak enak dengan Bibi Mey. Pikirannya pasti sudah aneh-aneh, karena selama ini saya tak pernah bercerita atau bahkan membawa teman gadis  untuk main ke rumah.
“Kalian bicara saja berdua, biar Bibi buatkan minum.” Kata Bibi Mey begitu ramah lalu berlalu ke dalam.
Senyum gadis itu masih saja cengengesan. Merasa tak punya salah.
“Kau tidak malu datang ke rumah seorang lelaki sendirian?”
“Untuk apa malu? Lagi pula itu salahmu, suruh siapa kau lari begitu melihat saya.” Katanya sambil memanyunkan bibir mungilnya.
“Saya tidak lari. Tadi hanya ada urusan mendadak.”
“Bohong! Memangnya kenapa si, Wan? Kau melihat saya seperti melihat setan saja.”
“Itu karena kau . . .”
“Apa?” katanya memotong pembicaraan. Matanya sempurna menatap saya begitu dekat. Jarak kami bahkan hanya sejengkal saja.
“Silakan diminum.” Bibi Mey tiba-tiba datang mengejutkan kami. Refleks gadis itu pun menjauh dari saya. Senyumnya menyambut Bibi Mey begitu sumringah, sok kenal bahkan begitu ingin akrab. Untung saja Bibi Mey masih banyak pekerjaan, jadi tak perlu lama-lama menanggapi gadis gila ini. 
“Kau hanya tinggal dengan Bibi Mey saja ya, Wan?”
Gadis itu pun mulai mengulik kehidupan pribadi saya. Mungkin baginya penting sekali. Dulu pernah saya bertanya, mengapa ia harus terus mengurusi kehidupan saya. Ia bilang saya begitu berarti untuk dirinya. Yah, saya memang tinggal dengan Bibi Mey saja. Beliaulah yang sudah merawat saya sedari kecil. Ibu saya meninggal ketika  melahirkan saya. Sejak saat itu saya besar atas didikan Ayah. Dan saat usia saya 9  tahun Ayah pun pergi.
Ayah saya dulu seorang jurnalis yang cukup hebat. Namun sayang, kejadian itu membungkam semua karyanya. Ketika subuh baru saja menyingsing dan mulai menyembulkan harapan cerah, saya dan Ayah berangkat ke langgar untuk sholat subuh bersama. Namun baru beberapa langkah kami keluar rumah, dengan posisi Ayah menggandeng tangan saya, tiba-tiba suara ledakan itu terdengar begitu keras. Tembakan itu begitu sadis menembus kepala Ayah. Mengerikan! Beliau jatuh tersungkur berlumur darah tepat di depan mata saya.
Menjerit histeris dan menangis, saya memeluk Ayah. Kata-kata terakhirnya bahkan masih saya ingat. Selalu terngiang di telinga, lirih menyayat hati. “Kau harus jadi orang hebat dan tegakkanlah selalu keadilan.” Begitu yang terdengar, hingga bibirnya mengatup usai membaca dua kalimat Syahadat di sela-sela mautnya.
 Di subuh yang cukup remang itu saya sempat melihat orang yang menembak Ayah. Ia memakai baju serba hitam, seperti seragam khusus. Entah siapa, sayangnya saya tidak terlalu jelas lihat wajahnya. Ketika beranjak dewasa, saya baru mengerti tentang apa yang terjadi. Kata Bibi Mey, Ayah terlalu berani menentang pemerintah. Itu sebabnya beliau dieksekusi.
Tapi jujur, apa yang saya lakukan sekarang bukan karena semata-mata saya punya dendam pada mereka yang sudah membungkam aksi Ayah. Tapi karena saya juga ingin menegakkan keadilan. Negeri ini terlalu banyak sampah, dan kita tak boleh nyerah.  
Sampai sekarang, setiap saya mengikuti apa yang Ayah lakukan dulu. Entah itu menulis, mengkritik, berdemo memimpin ribuan massa, Bibi Mey selalu khawatir. Beliau bilang tak ingin kehilangan saya seperti saat beliau kehilangan Ayah.
Ayah adalah kakak satu-satunya yang beliau miliki. Bibi Mey pun sekarang hidup sendirian. Lima tahun lalu suaminya pergi. Katanya tak betah dengan Bibi Mey yang tak bisa punya keturunan.
Tiap hari juga, dulu saya sering melihat paman memukuli Bibi Mey, tanpa ampun. Pernah sekali saking saya tak tahan dengan kelakuan paman, saya pukul ia. Seenaknya saja pulang dalam keadaan mabuk habis kencan dengan wanita lain, lalu menyiksa Bibi Mey. Tiga hari setelah kejadian itu paman pergi dan tidak pernah kembali lagi hingga sekarang. Tapi saya rasa itu lebih baik, jadi Bibi Mey tak perlu lagi menghadapi kegilaan paman.  
 Gadis itu masih menyimak cerita saya. Matanya berkaca-kaca, menatap saya begitu prihatin.
“Wan, saya tak menyangka kau punya kisah yang begitu menyedihkan.” Katanya sembari mengusap ujung matanya yang berair.
“Kau mendengar cerita saya seperti nonton drama saja. Tak usahlah berlebihan.”
Ia tersenyum sembari membelai wajah saya dengan lembut.
“Wan, saya janji akan terus menjadi orang yang selalu ada untukmu.”
“Kenapa?”
“Karena saya mencintaimu, Wan.” Katanya, lalu mengecup pipi saya.
Malam pun datang membuyarkan semua kekakuan. Hujan juga sudah tidak turun lagi. Saya mengantarnya pulang. Jalan kaki, dan kami terlihat seperti pasangan yang sedang menikmati malam bersama. Menyedihkan, kenapa ia harus seperti itu pada saya? Berlebihan dan saya tak akan bisa balas.
Tiga puluh menit, ia terus berjalan sambil menggandeng lengan saya. Tak berhenti tersenyum. Wajahnya bersinar seperti bintang di langit sana. Hatinya berbunga.
Sesampainya di rumah, ia masih memandang wajah saya begitu senang. Masih dengan posisi tangannya yang terus saja menggandeng lengan saya.
“Masuklah ke dalam dan segeralah tidur!” Kata saya sedikit perhatian.
Ia malah tertawa begitu genit.
“Hahahah, ini baru jam 19.00 Wan, saya belum ngantuk. Kau tak ingin mampir? Biar saya buatkan kopi. Papa pasti senang melihatmu. Papa bahkan selalu memuji tulisan-tulisanmu.”
“Tidak, lain kali saja.”
Ia tersenyum datar, lalu diam sejenak. Mata kami pun saling beradu pandang.
“Wan, bisakah kau panggil nama saya? Selama ini saya tak pernah mendengarmu memanggil nama saya.” Pintanya, membuat saya merasa kasihan.
“Masuklah! Udara di luar dingin, kau bisa sakit.”
“Tidak, sebelum kau panggil nama saya.” Ia berdiri kaku begitu manja, matanya melotot galak pada saya.
“Hmm, baiklah. Selamat malam, Sekar.”
Gadis itu tersenyum begitu riang seperti mendapat kado yang indah dari seorang lelaki.
♠♠♠

(bersambung . . .)
Categories:

0 comments:

Post a Comment