Minggu pagi yang cerah. Saya pun baru bangun
dari tidur yang nyenyak. Bibi Mey terlihat sibuk menjemur pakaian di halaman
depan. Saya masih berdiri mengamping di jendela kamar. Suasana di luar ramai. Anak-anak
berlarian, sibuk pula membicarakan tentang karnaval di taman kota.
Karnaval?
Sekar, gadis itu biasanya ribut sekali jika
mendengar ada acara karnaval. Pasti ia akan memaksa saya untuk menemaninya
pergi. Rasanya itu akan jadi hari
yang sangat menyebalkan. Mendengar celotehnya yang berbicara tentang segala hal
yang berkaitan dengan penampilan, perasaan dan . . . hmm, apalah itu semoga
saja ia tidak ingat jika ada acara karnaval hari ini.
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan
rumah. Si pemilik lantas membuka kaca mobilnya dan membunyikan klakson mobil. Saya pun penasaran, dari mobilnya bisa dilihat
kalau pemiliknya pastilah kalangan atas.
“Selamat pagi, Bibi Mey?” sapa seseorang itu dengan ceria lantas bergegas
turun dari mobil.
Mata saya langsung melotot kaget.
Sekar? Baru saja saya bicarakan, tiba-tiba ia
sudah sampai di rumah saya. Sepertinya suara hati saya pun dapat didengar
olehnya. Bibi Mey tersenyum menyambutnya dengan ramah kemudian mempersilakan
masuk.
Saya pun buru-buru keluar dari kamar.
“Hey, kau kenapa datang ke sini lagi?” tanya
saya, melotot padanya.
“Wan, sopanlah dengan wanita. Kau ini, kasar
sekali!” Bibi Mey mencubit lengan saya.
Sekar tertawa sembari menjulurkan lidahnya ke
arah saya yang sedang meringis kesakitan. Apanya yang lucu? Hati saya berkali-kali mengutuknya. Kenapa harus
ke sini? Tidak bisakah sekali saja saya tidak usah bertemu dengannya?
“Benar, Wan. Kau dengar `kan apa kata Bibi Mey?” Katanya dengan bangga.
“Bibi tinggal ya, masih banyak pakaian yang harus
dijemur.” Kata Bibi beranjak keluar halaman.
Sekar masih saja tersenyum cengengesan.
“Biar pun baru bangun kau tetap terlihat
tampan ya, Wan.” Katanya tersenyum manis.
Saya mendesis sebal, masih menatapnya dengan
galak.
“Hari ini hari libur. Apa tidak ada jadwal
libur untukmu? Kenapa di hari libur
seperti ini kau masih saja mengganggu saya?”
protes saya.
“Hehee, hari ini ada karnaval `kan? Ayolah kau
cepat mandi, saya ingin
mengajakmu jalan-jalan dengan mobil baru saya.”
“Dasar gadis manja. Kau pasti merengek pada Papamu saat minta mobil itu.” Ejek saya.
“Enak saja, itu hadiah dari Papa karena
kemarin nilai ujian saya dapat bagus.” Katanya dengan bangga.
“Iyakah?”
“Emm.” Ia mengangguk.
Saya pun bergegas mandi dan bersiap. Biarlah
saya turuti apa maunya, karena jika tidak ia pasti akan terus mengganggu saya.
Beberapa menit kemudian saya telah siap. Sekar terlihat begitu senang sekali.
Kami pun bergegas pamit pada Bibi Mey.
“Kau menyetir sendiri?” tanya saya, ragu.
“Iya, tenang saja saya sudah bisa kok.”
Jawabnya meyakinkan saya.
Kami pun segera berangkat menuju taman kota.
Perlahan mobilnya melaju dengan perlahan melewati gang-gang
kumuh. Di sepanjang jalan saya lebih banyak diam. Sekar masih asyik berbicara
ini itu dan berkata begitu senang sekali bisa pergi bersama saya di hari libur.
Empat puluh menit akhirnya kami sampai di
taman kota. Ramai sekali. Masyarakat sudah berkumpul dan terlihat begitu
antusias. Beberapa peserta karnaval juga sudah terlihat siap untuk memulai
acara. Masing-masing menampilkan budaya khas dari daerahnya. Saya sudah keluar
dari mobil tapi Sekar tak kunjung keluar.
“Kau lama sekali. Tadi suruh saya cepat-cepat
kenapa sekarang kau yang lambat?” kata saya tak sabar.
“Sabarlah, Wan. Saya sedang mencari kaca mata
hitam saya. Di mana ya?”
Saya menepuk dahi. Ada-ada saja. Untuk apa
pakai kaca mata? `Kan hanya lihat karnaval.
“Aaah ini sudah ketemu.” Katanya, lantas
bergegas memakai kaca mata hitamnya.
“Dasar aneh!” kata saya, kemudian bergegas
jalan dengan cepat.
“Wan, tunggu saya!”
Sekar begitu girang sekali. Sepanjang jalan
pula ia terus bertanya-tanya tentang budaya dan pakaian adat apa saja yang peserta kenakan.
“Wooow keren sekali. Kau lihat, Wan?
Mengagumkan.” Katanya sambil loncat-loncat begitu senang.
Ia pun menyuruh saya memotretnya dengan
peserta karnaval yang mengenakan pakaian adat daerah. Berkali-kali juga ia
bertanya, “apa saya sudah kelihatan
cantik, Wan?” Membuat kesal saja karena berkali-kali juga saya dibuatnya
batal memotret.
“Sepertinya Pak Presiden datang ke acara ini. Kau lihat, di sana ada rombongan para
ajudannya.” Kata Sekar, lantas memotret suasana tersebut.
Rombongan Presiden lewat, diarak dengan mobil istana. Diikuti
pasukan berkuda dan para penjaga keamanan. Saya dan Sekar berada di barisan paling
depan di antara kerumunan masyarakat, jadi bisa melihat dengan jelas. Masyarakat
begitu antusias menyapa dan membalas lambaian tangan Presiden. Riuh tepuk
tangan pun menwarnai ramainya karnaval. Saya hanya diam, mengamati.
Acara yang sangat meriah. Tawa terlukis di
masing-masing wajah, kecuali saya. Sekar masih asyik memotret, tiba-tiba saja
seseorang menyapanya. Lelaki dengan kumis tebal dan berbadan gagah. Mengenakan stelan
jas hitam yang terlihat mahal.
“Sekar ya?” tanyanya, ragu.
“Om Hendratmo? Wah, lama sekali kita tak jumpa.”
Katanya begitu heboh.
“Iya, tadi Om lihat sepertinya kau. Tapi tadi
juga takut salah orang. Oh iya, bagaimana kabar Papamu? Wah, sekarang kau sudah
besar ya, dulu terakhir ketemu kau masih SMP.”
“Hehe iya, Om. Papa baik-baik saja. Om sih pindah
ke luar kota, jadi sudah tak pernah lagi main ke rumah.” Katanya makin akrab.
“Maaf soal itu. Tapi sekarang Om sudah di
Jakarta lagi, jadi bisalah kapan-kapan main ke rumah. Oh iya, kau dengan siapa
ke sini?” katanya sembari melirik sinis pada saya.
“Ini dengan teman Sekar. Kenalkan, Om. Namanya
Awan.” Katanya sembari menarik tangan saya.
“Ooh, Om pikir lelaki yang di sampingmu ini pacarmu. Tapi mana mungkin juga gadis cantik sepertimu punya selera seperti ini.” Katanya dengan
senyum mengejek.
Sekar menatap saya kasihan, merasa tidak enak.
Kami pun saling diam sejenak.
Saya hanya cuek.
“Om sekarang masih bekerja di bisnis kayu?”
tanya Sekar mencairkan kekakuan.
“Bisnis itu Om serahkan pada anak buah.
Sekarang Om sibuk jadi anggota DPR.” Katanya dengan bangga.
“Waah, Om hebat sekali ya.”
“Oh iya Sekar. Om masih banyak urusan, jadi
lain kali saja kita bertemu lagi ya. Kapan-kapan Om akan main ke rumah. Salam
buat Papamu.” Katanya, lantas
bergegas meninggalkan kami berdua.
Hingga acara karnaval usai kami masih saling
diam. Sekar juga tidak
lagi
cerewet. Hari makin siang, panas
cukup
terik. Kami pun bergegas pulang.
Di dalam mobil, Sekar memulai pembicaraan.
“Maaf soal tadi, Wan.” Katanya lirih.
“Apa? Lagi pula perkataannya benar. Harusnya
kau yang merasa malu. Orang lain saja memandang kau aneh jika mau jalan dengan
saya. Tapi kau justru senang sekali jalan dengan saya.”
“Jangan bilang seperti itu, Wan. Mereka hanya
tidak tahu bagaimana kau yang sebenarnya. Bagi saya, Awan adalah lelaki yang
hebat.”
“Kau keras kepala sekali!”
Sekar tersenyum menatap saya. Kami pun saling
diam lagi. Hening beberapa saat. Dan sesekali saling pandang.
“Tadi itu siapa?” tanya saya penasaran.
“Om Hendratmo, rekan bisnis Papa dulu. Saya
akrab dengannya waktu kecil. Baik sekali orangnya.”
“Oooh.” Jawab saya singkat.
Sekar malah tertawa sembari menatap saya.
“Kenapa?”
“Kau tidak cemburu `kan, Wan? Kenapa jawaban
kau hanya oh saja? Hahahah.”
“Ah, kau ini jangan berpikiran yang aneh-aneh.
Lagi pula itu `kan urusan pribadimu. Jadi untuk apa saya memberikan banyak komentar?”
“Ya ya ya. Tapi terima kasih untuk hari ini
ya, Wan.”
Senyum manis dan keceriaan pun menghiasi wajah
Sekar hingga ia usai mengantar saya pulang. Hatinya pasti berbunga-bunga.
♠♠♠









