Inilah kota dengan sejuta teka-tekinya
yang menyeret saya untuk kembali bernostalgia. Sederet nama pernah menjadi
pejuang yang hebat di sini. Pemikir-pemikir besar bangsa pun pernah disingkirkan
hanya demi kepalsuan. Setiap jalan menjadi saksi bisu di mana darah dan peluh
pernah bercecer.
Sejarah, kini dalam perjalanannya
hanya bagaikan dongeng. Entah bagaimana nanti generasi penerus akan memaknai
negeri ini. Pers yang seharusnya jadi sahabat rakyat, yang seharusnya memberikan
kebenaran pun dibungkam. Catatan lusuh dan arsip masa lalu juga disulap menjadi
bukan fakta lagi.
Lalu apa guna sejarah bila hanya
untuk ditutup rapat-rapat? Apa guna ada media cetak, media elektronik jikalau
hanya untuk menampilkan kepalsuan dari gurita-gurita istana?
Negeri ini memang payah!
Kader politik makin serakah, rakyat
makin pasrah. Rasa-rasanya ingin saya coreng muka Rahwana yang menduduki kursi
kuasa. Atau saya tinju itu wajah licik Sengkuni yang bertahta jadi wakil
rakyat.
Negeri ini terlalu absurd untuk
dimengerti, Bung. Dan percumalah kau bilang “JASMERAH” (Jangan Sekali-kali
Melupakan Sejarah). Anak cucumu telah terkontaminasi dusta!








Pas buk
ReplyDeletejadi kesindir, dulu paling gak suka pelajaran sejarah. hehehe
ReplyDeleteJasmerah!!
ReplyDelete