Tuesday, 29 September 2015

GENDIS


Orang bilang cinta itu indah jika kita menemukan seseorang yang pas di hati. Tapi tidak bagiku. Namaku Gendis, gadis Jawa berparas manis yang hidup dalam keluarga kejawen. Gendis dalam bahasa Indonesia berarti gula. Orang tuaku selalu berharap agar jalan hidupku selalu manis seperti gula. Dan satu minggu lagi adalah hari pernikahanku. Hari sakral yang kebanyakan orang menantinya dengan bahagia. Aku justru ingin kabur saja.

Malam selalu memberikan ketakutan padaku. Hari menjadi cepat berlalu, dan pernikahan bodoh itu akan segera terlaksana. Aku membuka jendela kamarku. Hawa dingin dan agak mistis mulai menggelitik. Desa Rahtawu ini menyimpan banyak misteri. Banyak juga ilmuwan Islam maupun juru dakwah yang tertarik dan mencari tahu bagaimana praktik agama Islam di sini.

Kehidupan warga di Rahtawu masih kejawen dan sangat tradisional. Di Rahtawu juga terdapat banyak petilasan pertapaan yang diyakini warga kalau pada zaman dahulu kala memang benar-benar merupakan tempat bertapanya para suci yang kami sebut “Eyang”. Kebanyakan dari para Eyang itu adalah leluhur Pandawa.

Rahtawu berada di kaki Gunung Muria sekitar 20 km dari pusat Kota Kudus. Memiliki pemandangan yang indah karena letaknya yang dikelilingi deretan pegunungan, bukit-bukit terjal,  dan sungai-sungai yang masih jernih. Rahtawu juga jauh dari keramaian. Kehidupan masyarakat di sini sebagian besar adalah petani atau peladang. Mereka menanam padi, tebu, kopi, dan menjual pepohonan seperti randu, sengon, serta pohon yang merupakan vegetasi lokal. Sedikit di antara mereka ada yang menambang pasir dan batu. Padi dan kopi merupakan komoditas unggulan. Kata orang, nama Rahtawu mempunyai arti getih kececer dalam bahasa Jawa, atau darah yang bercecer dalam bahasa Indonesia.

Malam ini anak-anak ramai berlalu-lalang,  pulang mengaji dari langgar. Lebih baik begitu daripada mengikuti tradisi bapak-bapak mereka memberi sesaji dan mencari benda-benda pusaka di petilasan-petilasan. Aku juga tidak suka kalau Bapak ikut-ikutan seperti itu. Kenapa mencari berkah, perlindungan, kekebalan, kesuksesan malah datang ke makam. Ya memang, kalau ditanya mereka akan jawab kalau Eyang hanya sebagai perantara untuk menyampaikan doa kita pada Yang Maha Kuasa. Tapi dari mana ada teori kalau berdoa harus pakai perantara.

 Harusnya malah mereka yang mendoakan para Eyang. Lebih tepatnya berziarah saja. Bukan malah mencari ajian atau senjata seperti keris dan lain-lain. Lalu bertapa, memberikan sesaji bunga dan dupa. Tapi jika ditelisik lebih dalam lagi, apa yang mereka lakukan sudah termasuk syirik. Dan sebelum melakukan itu mereka biasanya mandi dulu di mata air, sekitar 50 meter dari petilasan. Bagiku itu tetaplah aneh. Tapi sekali lagi itu Adat.

Suara anak kecil terdengar riang menyapaku yang sedang melamun. “Mbak Gendis, kenapa malah melamun. Mikirin Mas Gumono ya?” kata Aryo begitu polos. Aku hanya menggelengkan kepala dan tersenyum datar pada bocah di depanku ini. Diam memperhatikan tingkahnya menatapku yang pucat tak tersenyum. “Mbak Gendis ndak cinta kan sama Mas Gumono. Mbak Gendis cintanya sama Mas Angga, iya kan?” kata Aryo membuatku gelagapan. Bagaimana tidak, bocah kecil ini saja tahu bagaimana perasaaanku. Tapi Bapak justru mengabaikannya.

“Sudah sana lo pulang. Kamu ndak belajar, besok sekolah.. Mbak ndak apa-apa.” Kataku pada Aryo. Aryo malah tersenyum menatapku kasihan. Kemudian berlalu meninggalkanku sendiri. Aku meneruskan lamunanku. Memikirkan lelaki yang sampai saat ini masih dan akan selalu ada di hatiku. Mas Angga, seorang lelaki dari Jakarta yang sangat tidak disegani Bapak. Kami saling mencintai, bahkan hubungan kami sudah hampir 3 tahun. Tapi Bapak sama sekali tidak pernah merestui hubungan kami. Bertemu saja kami sembunyi-sembunyi. Dan mungkin kami tidak akan pernah bisa bertemu lagi.

Tok, tok, tok, suara Bapak mengetuk pintu menyuruhku segera keluar dan bersiap. “Nduk, kamu belum bersiap juga. Sebentar lagi keluarga Gumono datang ke rumah mau membicarakan pernikahan kalian. Cepet siap-siap!” Aku membuka pintu. Menatap wajah sumringah Bapak yang begitu antusias. “Pak, ndak bisa dibatalkan? Apa Bapak tetap memaksa Gendis menikah dengan anak dari Kyai sesat itu?” Bapak diam dan menatapku galak, Ibu yang melihat kami langsung datang dan menarikku pergi. Menyuruhku menuruti Bapak dan bersiap.

Aku menangis terisak. Merasa hidup tidak adil saja. Tapi Ibu selalu bilang “Nduk,witing tresno kuwi jalaran soko kulino. Dulu Ibu juga ndak cinta sama Bapak karena dijodohkan. Tapi lama-kelamaan ya akhirnya Ibu bisa mencintai Bapakmu.” Menurutku Bapak hanya memandang Gumono sebagai anak Kyai yang tentunya akan baik menjadi Imam keluarga. Tapi keluarga Gumono tak lebih dari sekelompok orang-orang sesat. Bapaknya memang Kyai, tapi entah Kyai macam apa melakukan ritual-ritual aneh di atas puncak gunung Rahtawu dan meminta-minta pada petilasan-petilasan. Sudah tentu juga nanti Gumono yang akan jadi penerus Bapaknya. Itu yang tidak aku suka.

Keluarga Gumono datang. Bapak dan Ibu menyambut ramah. Aku keluar dari kamar dan usai bersiap. Sungguh muak rasanya menatap senyuman Gumono. Kemarin dia bilang dia sangat mencintaiku. Tapi sungguh aku tidak suka. Entah sudah berapa banyak gadis di Desa ini yang menjadi korban mulut menjijikannya. Aku hanya menunduk memalingkan wajah darinya.  Semua membicarakan masalah pernikahan dan sungguh ada hal yang membuatku kaget. Pernikahanku dipercepat. Menjadi tiga hari lagi. Itu artinya sudah tidak ada kesempatan untuk aku bebas. Batinku serasa berteriak dan memberontak. Mas Angga kamu di mana? Bawa aku pergi saja. Gumamku dalam hati.

Acara selesai. Mereka berpamitan. Aku langsung masuk ke kamar dan menangis. Handphoneku berdering, itu telepon dari Mas Angga. Aku menjawabnya. Dia bilang akan segera mengusahakan agar aku tidak jadi menikah dengan Gumono. Katanya dia punya satu bukti yang akan membuat Bapakku membatalkan rencana perjodohan ini. Hatiku sedikit lega tapi juga takut memikirkan kerasnya Bapakku. Malam makin berlalu, dan esok hari akan berganti.

*****
Pagi datang mengisi sepetak duniaku. Berada di ketinggian kurang lebih 1.627 meter di atas permukaan laut hawa di sini  masih dan akan selalu dingin. Sesekali aku juga bergidik kedinginan. Bibirku sampai bergetar sendiri. Telapak tanganku sudah pucat beku.  Sejenak terpikir tiap hari juga kami warga di sini  harus susah payah kalau harus ke Kota. Siapapun yang mau keluar atau datang ke Desa ini harus susah payah naik atau turun. Melewati jalan aspal yang sempit, berkelok tajam, naik, turun, dan curam.

Sepertinya di luar mendung. Aku membuka jendela kamarku, membiarkan angin masuk dan benar saja rintik hujan mulai menghujam membasahi Desa ini. Lembut menerpa wajahku. Bukit-bukit hijau sudah terlihat tertutup kabut. Dingin makin menelisik ujung jari dan hidungku. Udara sejuk sekali, bau khas tanah bercampur air saat hujan. Aku memejamkan mataku. Diam dan mulai memasang headset. Memutar lagu kesukaanku. Lagu milik Letto “Sebelum Cahaya”.

Cinta, lagi-lagi kata itu melintas di otakku. Aku tidak mengerti dan kadang bingung aku ini hidup di era tahun berapa. Kenapa masih ada orang tua yang mengekang kebebasan anaknya. Perjodohan maksudku. Baiklah kalau alasan itu demi kebaikanku. Seperti kata Ibu juga setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi sungguh ini bukan yang terbaik. Bagaimana mungkin aku menikah dengan seorang laki-laki seperti Gumono. Dia cukup tampan, badannya tegap, tinggi dan orang terpandang. Tapi aku tidak menyukainya, dia dan keluarganya sesat, itu cacatnya.

Dan Bapak juga mengikuti aliran-aliran itu, rajin pergi ke petilasan daripada ke langgar. Yah, mereka satu kelompok yang punya satu tujuan. Sedangkan Mas Angga, dia lelaki baik, tidak pernah neko-neko, tidak pernah mempermainkan wanita bahkan lebih berpendidikan daripada Gumono yang selalu digadang-gadang Bapak. Tapi Bapak selalu memandang jika orang yang dari Kota besar pasti pergaulannya rusak. Pemabuk, narkoba, dan main wanita.

Duh Gusti, itu sungguh pikiran yang sempit sekali. Bapak tidak pernah benar-benar mengenal Mas Angga. Setiap kali aku meminta Bapak untuk bertemu dengan Mas Angga. Bapak selalu membentak dan menyuruhku untuk tidak berhubungan lagi dengan Mas Angga. Dan mulai pagi ini duniaku makin sempit saja. Tidak boleh kemana-kemana. Hanya boleh di rumah saja. Dua hari lagi Gumono akan meminangku. Itu sungguh menjijikkan. Tapi setidaknya aku masih punya satu handphone yang aku sembunyikan dari Bapak. Mas Angga masih bisa menghubungi aku lewat ini.

Usiaku 23 tahun, harusnya aku sudah mengenyam bangku perkuliahan. Tapi lagi-lagi Bapak melarangku, katanya untuk apa? Akhirnya juga kodrat wanita itu ya di dapur. Aku sungguh muak, dan benar-benar merasa jenuh sekali. Handphoneku berdering, telepon dari Mas Angga. Katanya dia sudah ada cara untuk menguak bukti yang dia bicarakan kemarin. Besok malam tepat sehari sebelum aku menikah Mas Angga akan ke Desaku. Aku agak takut-takut dan bingung bagaimana cara aku menemuinya. Tapi pasti ada cara.

Aku menghabiskan waktuku untuk membaca buku dan terus mendengarkan lagu dari Letto. Entah kenapa lagu itu begitu menenangkanku. Lagu “Cinta Sebenarnya” liriknya benar-benar indah “Dan bangunkanlah aku dari mimpi-mimpiku sesak aku di sudut maya dan tersingkir dari dunia nyata. Dan bangunkanlah aku dari mimpi indahku terengah-engah ku berlari dari rasa yang harus ku batasi.” Tak terasa ada air menetes dari sudut mataku. Yah, aku menangis lagi. Mas Angga, aku sungguh mencintaimu. Tapi aku harus bagaimana?

*****
Hari terus berlalu. Malam yang aku tunggu datang dan besok adalah hari pernikahanku. Tadi Mas Angga mengirimiku pesan, katanya dia sudah di Desa. Jantungku makin berdetak kencang, gugup takut terjadi apa-apa dengan Mas Angga. Semoga tidak ada malapetaka apapun. Orang-orang sudah ramai berkumpul di rumahku ada acara penyambutan untuk hari esok. Warga saling bergotong-royong menyiapkan acara pernikahan besok.

Kebiasaan warga Rahtawu juga tiap ada acara hajat pasti menggelar hiburan tayub. Sungguh ramai sekali sambutan acara pernikahanku padahal masih besok. Di Rahtawu juga ada pantangan, yaitu warga dilarang menggelar hiburan wayang kulit. Meski di sini banyak nama petilasan dengan nama-nama leluhur pewayangan. Namun bila dilanggar, yang bersangkutan bisa terkena bencana. Jadi warga hanya berani menggelar acara tayub tidak pernah yang lainnya. Sudah adatnya.

Aku mencari cara untuk bisa keluar. Mas Angga sudah menungguku di tempat yang sudah kami atur untuk janjian. Aku memutuskan untuk lompat dari jendela kamarku dan langsung lari lewat kebun di samping rumahku. Cukup gelap dan orang-orang tidak akan tahu. Aku langsung berlari dan menutup wajahku dengan kerudung menuju ke tempat Mas Angga. Akhirnya sampai. Aku bertemu dengan Mas Angga. Sungguh rindu sekali rasanya, lama kami tidak bertemu. Rasanya ingin menangis dan memeluknya. Wajahnya masih sama meneduhkannya. 

“Mas Angga, aku merindukanmu.” Kataku sambil menggenggam erat kedua tangannya.

“Aku juga Gendis, kamu baik-baik saja?” Tanya Mas Angga begitu khawatir.

Aku menganggukkan kepala. Kami langsung berbicara mengenai bukti itu. Mas Angga menjelaskan padaku. Katanya Gumono adalah lelaki yang tidak baik. Dan ternyata dia memiliki hubungan dengan Ratih. Seorang janda genit yang tinggal di Desa sebelah. Mas Angga sudah menyelidikinya. Bahkan tadi dia melihat kalau Gumono sedang ada di rumah Ratih. Entah apa yang mereka lakukan sepertinya itu hal yang sangat-sangat buruk. Aku makin semangat untuk membuktikan kelakuan buruk Gumono pada Bapak dan semua warga.
“Aku yakin semua akan baik-baik saja. Kamu tidak akan menikah dengan Gumono. Aku mencintaimu Gendis.” Kata Mas Angga meyakinkanku.

“Aku juga mencintaimu Mas Angga. Aku hanya ingin bersamamu.” Kataku mulai menangis.

Tapi sial, baru saja kami hendak membuktikan kelakuan Gumono. Pak Rejo yang kebetulan lewat memergoki kami berdua dan langsung berteriak memanggil Bapak dan warga. Kami panik, dan seketika warga menyeret Mas Angga. Aku langsung ditarik oleh Ibu dan Ibu Gumono. Bapak bahkan sempat menampar pipi Mas Angga, itu sungguh membuat hatiku ngilu dan sakit. Bapak marah besar dan membentak kami berdua.

“Kalian berdua, apa yang kalian lakukan. Dan kamu Nduk, harusnya sadar besok itu hari pernikahanmu. Jangan seperti wanita murahan, malam-malam menemui lelaki tidak benar ini!!!” bentak Bapak.

“Mas Angga lelaki baik Pak. Ndak seperti apa yang Bapak kira.” Kataku dengan gemetar dan mulai terisak.

“Sudah!! Bapak ndak mau dengar alasan lagi. Dan kamu, untuk apa lagi kamu menemui Gendis. Dia sudah saya jodohkan dengan lelaki terpandang yang bahkan jauh lebih pintar dari kamu.” Kata Bapak membentak Mas Angga dan hampir menemparnya lagi.

“Hentikan Pak! Harusnya Bapak ndak bilang seperti itu. Gumono itu ndak baik Pak. Bahkan malam ini, sehari sebelum pernikahan. Dia sedang asyik-asyikan di rumah Ratih. Janda genit tidak tahu malu yang pernah jadi sinden tayub. Ya, bahkan Gendis tahu kalau Bapak juga dulu pernah menyukainya.” Kataku penuh emosi.

Bapak hanya diam. Dan ikut kaget dengan apa yang aku katakan. Bapak dan Ibu Gumono bahkan ikut tercengang menahan malu atas kelakuan anaknya. Warga melepaskan Mas Angga. Dan aku langsung berlari memapah tubuhnya yang lemas karena dipukuli warga. Situasi berbalik, warga malah menyalahkan Bapakku. Mereka mulai berteriak-teriak, berseru “Kita grebek saja itu Gumono dan Ratih. Dasar orang tidak benar, mencemari nama baik Desa ini saja. Iya betuuul ayyooo kita grebek saja.” Kata warga berseru ramai.

Mereka langsung menuju rumah Ratih. Bapak dan Bapak Gumono juga ikut. Begitu sampai di rumah Ratih, warga langsung mendobrak pintu rumah karena saking emosinya. Dan benar saja kami semua melihat Gumono sedang berduaan. Bahkan perbuatan itu seharusnya tidak pantas dilakukan oleh orang yang bukan suami isteri. Mereka semua tercengang dan langsung menyeret Ratih dan Gumono. Bapak Gumono bahkan geram dan langsung menampar keras pipi Gumono. Ibunya malah jatuh pingsan melihat kelakuan Gumono.

Malam itu juga mereka berdua di hukum oleh para Tetua Desa. Dan benar seperti kata Mas Angga, kejadian ini membuka mata Bapakku. Bapak langsung minta maaf padaku dan bilang tidak akan memaksaku lagi. Ibu menangis dan tersenyum padaku. Selama ini Ibu juga kasihan padaku tapi hanya bisa diam karena tidak berani menentang Bapak. Aku tersenyum dan mengusap air mataku. Menatap wajah Mas Angga yang juga ikut tersenyum bahagia. Bapak berlalu dan sebelumnya juga meminta maaf pada Mas Angga. Menyuruhnya untuk menjagaku. Kerumunan orang berlalu membubarkan diri. Aku memapah tubuh Mas Angga dibantu warga lainnya menuju ke rumah.

Sampai di rumah aku mengobati luka lebam di wajah Mas Angga. Dia terus menatap wajahku yang mungkin sudah bersemu merah karena malu. Bintang-gemintang bertabur indah di langit. Malam makin sunyi. Angin berhembus menemani kebersamaan kami yang tenang duduk di beranda.  Binatang-binatang malam juga masih asyik mengusik rimbunya ilalang.

Cinta memang selalu butuh pengorbanan. Aku dan Mas Angga juga mengalami itu, berjuang untuk meluluhkan hati Bapak. Ini benar-benar seperti mimpi, kami tidak pernah membayangkan kalau kami bisa bersatu. Selama ini yang ada di pikiran kami adalah hubungan percintaan yang kami jalin akan berakhir dengan perjodohanku dan Gumono. Setelah semua kejadian ini, kami akan memperbaikinya. Sebentar lagi Mas Angga wisuda dan setelah itu juga dia akan melamarku.

Setiap orang tua memang akan selalu berusaha untuk kebaikan anaknya. Namun perlu diingat juga, mengusahakan yang terbaik bukan berarti mengekangnya. Tapi tetap menurutku, Ibu adalah wanita yang paling kuat. Beliau rela dijodohkan demi membahagiakan orang tuanya. Rela menghadapi kerasnya sifat Bapakku dan malah belajar mencintainya. Tapi aku Gendis, gadis Jawa yang mencoba bebas dan keluar dari kekangan. Gendis yang mencoba merubah hidupnya menjadi manis seperti namanya. Dan cinta, orang Jawa bilang “Witing tresno kuwi jalaran soko kulino” atau tumbuhnya cinta itu lantaran dari terbiasa. Yah, tentunya bukan biasa karena dipaksa. Tapi biasa karena hati yang saling menyatu bukan karena keterpaksaan.



By : Icha Mamusu


Categories:

6 comments: