Suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal
16 Desember 1969 di G. Semeru.
Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru
(puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang
awan, beberapa anggota tim terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh
pasir bebatuan, mereka menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk
hidung dan paru-paru.
Di depan kelihatan Gie sedang
termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan
tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun
duluan.
Dengan tertawa kecil, Gie menitipkan batu dan daun cemara.
Katanya, “Simpan dan berikan kepada kepada ‘kawan-kawan’ batu berasal dari
tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung
tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI.” Begitu kira-kira kata-kata
terakhirnya, sebelum turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau
situs recopodo(arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak
Mahameru).
Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco
(jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, mereka menunggu datangnya
Herman, Freddy, Gie, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan
lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala,
letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.
Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy
muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. “Gie dan Idhan kecelakaan!”
katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau
patah tulang. Mulai panik, mereka berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil
meneriakkan nama Herman, Gie, dan Idhan berkali-kali.
Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan
diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Gie dan Idhan sudah
meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap
semoga laporan Herman itu ngaco. Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur
rencana penyelamatan.
Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung,
menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri
dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan
satu wadah air minum. Tides meminta beberapa rekannya untuk menjaga kesehatan
Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.
“Cek lagi keadaan Gie dan Idhan yang sebenarnya,” begitu
ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, mereka
berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta
tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.
Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, mereka yakin kalau
Gie dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Mereka
jumpai jasad keduanya sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir
dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah
berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Gie dan Idhan terkatup kencang
serapat katupan bibir birunya. Mereka semua diam dan sedih.








Fiksi apa non fiksi
ReplyDeletenon fiksi
DeleteAku lebih baik mati dalam perasingan
ReplyDeleteSesuai dengan kata-katanya, ia pun mati muda bersama alamnya... :(
ReplyDeleteKembalilah dari tiada ke tiada, sosok inspiratif.
ReplyDeletedobol
ReplyDeletesedih ceritanya, ini kisah nyata ya?
ReplyDeletejadi pengen kenal lebih dekat dengan Gie
ReplyDeleteGie orang mana ya....????
ReplyDeleteTerima kasih yang sudah mampir baca
ReplyDelete