Bulir air menetes dari genting. Tanaman di pot-pot
samping rumah masih basah. Aku diam menyimak dua ekor pipit yang tengah asyik
mematut-matut kaki di ranting pohon.
Hujan sudah usai, ia belum juga datang. Satu jam.
Bosan, tapi harapku besar untuk menunggunya sore ini. Baiklah, 15 menit lagi. Huft.
Aroma kopi menelisik, begitu sempurna
menggodaku. Ah, tapi bukan itu yang aku ingin.
“Kamu mau kopi, dek?” Tanya Kakak.
Aku menggeleng.
“Kamu menunggunya lagi?”
Aku mengangguk.
“Mau sampai kapan?”
Aku hanya tersenyum, bingung.
15 menit berlalu. Wajahku tertunduk. Semangatku
pudar. Kakak yang duduk di sampingku, hanya tersenyum begitu riang karena kerut
di wajahku.
“Nah, itu Dek yang kamu tunggu sudah datang.”
Aku mendongakkan wajah. Menatap arah yang
ditunjuk Kakak. Senyumku sempurna terlukis begitu manis. Mataku berbinar. Segera
aku berlari menghampirinya.
“Bang, siomaynya satu.” Kataku dengan
semangat.
Asap dari dandang siomay mengepul begitu
menggugah selera apalagi ditambah dengan aroma saus kacang. Huum yummiii.
*****
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/
atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546








Yach, kirain nunggu pacarnya.. Eh malah ternyata nunggu si abang tukang siomay.. heheheh
ReplyDeletexixixixixi sama aku juga mikirnya gitu td
ReplyDelete