Saturday, 22 August 2015

Mengharap Tumbuhnya Jamur di Musim Kemarau 2


Aku duduk di teras. Menatap kosong suasana  halaman depan rumah yang basah karena hujan yang cukup deras. Angin berhembus cukup kencang. Hidungku mulai basah. Aku mengusap bulir air yang menetes dari sudut mataku.
Jarum jam di tangaku masih saja berdetik melajukan waktu yang semakin lama - semakin lambat. Handphoneku berdering, telepon masuk dari………….  aku buru-buru menjawabnya.
“Assalamu’allaikum?” suara seseorang di seberang sana.
“Wa’allaikumssalam.” Jawabku pendek.
Senyum jelas terlukis di wajahku. Suara itu akhirnya kudengar lagi, menyapa negeri sepetak duniaku. Kami saling bertanya kabar. Membahas segala sesuatu yang perlu dibahas. Senja mulai perlahan hilang dan berganti petang.
“Mas, kapan pulang?” tanyaku mulai merajuk dengan segenap rinduku.
“Sabar Dek, kuliah Mas masih sibuk. Mas belum tahu kapan akan pulang Dek. Bulan depan nanti, Mas juga sibuk mengurus skripsi. Maaf.”
Sudah 2 tahun, 7 bulan, lebih 2 hari gumamku. Dari musim hujan berganti kemarau, dari kemarau berganti hujan. Dan kini musim hujan akan kembali menjadi musim kemarau lagi. Aku terdiam dan mencoba mengumpulkan semangat kesabaranku. Suara adzan maghrib sayup-sayup terdengar di sela hujan. Merdu mengagungkan panggilanNya.
Aku tak henti-hentinya merajut doa yang kuselipkan bersama turunnya hujan. Masih menggenggam janji kesetiaan untuknya. Dan akan terus berharap Mas Isyam cepat pulang dengan segenap cinta yang dia janjikan.
“Jangan pernah lelah untuk menungguku Dek, ingat semua impian-impian kita. Aku akan datang untuk melamarmu jika saatnya tiba.” Katanya menguatkanku.
“Iya Mas. Aku akan mencoba sabar demi impian kita.” Kataku sedikit menahan sesak di hatiku, hendak menangis lagi.
“Hmm, Mas kangen Adek.” Katanya mencairkan segumpal rindu yang sedari tadi beku.
Rindu memang selalu sesak Mas. Menurutku. Apalagi aku menunggu seseorang yang sudah lama aku nantikan. Setiap hari hanya seperti ini. Berkomunikasi lewat handphone. Tak bisa melihat wajah dan senyummu. Kadang kau juga tidak menghubungiku jika sibuk kuliah. Aku paham. Tapi bagaimana dengan rinduku? Rinduku tak pernah bisa paham akan waktu dan musim yang terus berganti.
*****


Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 

Categories:

0 comments:

Post a Comment