Dalam perkembangan dunia dengan berbagai modernitas yang secepat kilat pada masa ini, di era yang kita dituntut untuk mengupdate kehidupan secara aktif pada tiap tahun, minggu, atau bahkan detik. Entah itu tentang
perkembangan teknologi ataupun pola pikir, mungkin akan muncul berbagai pertanyaan tentang masih adakah manusia yang berpikir dengan konsep ideologinya sendiri? Atau bahkan memang sudah tidak ada dan terganti dengan manusia yang hanya berpikir menggunakan kiblat pemikiran orang lain ataupun sekelompok golongan.
Di sini saya akan mencoba mencermati tentang life style barat dan
timur, kita sering kali latah bahkan sering menunggu tentang apa yang akan kita
tiru atau bajak dari life style barat. Kita juga sering mencoba untuk sepadan mirip dengan budaya, busana, life style, pola pikir atau idiologi mereka.
Bahkan kalau bisa kita malah ingin seimbang bahkan harus sepadan dengan pemikiran
barat. Itulah faktor yang menyebabkan kita lupa terhadap jati diri dan idiologi ketimuran yang
beradat, berbudaya, bermoral seperti yang selalu kita junjung dan bangggakan, dulu. Dan karena kesibukan kita meniru, budaya yang kita miliki sendiri pun pada akhirnya terkikis, hampir hilang.
Idiologi pribadi kita juga telah terkontaminasi. Contoh kecilnya, pemikiran memaknai uang yang
fungsi utamanya seharusnya mempermudah penukaran. Sekarang uang menjadi sesuatu yang
sakral. Uang dianggap paling berguna menjadi obat segala obat, bahkan dianggap sebagai Raja yang dapat menjadi penentu kehidupan.
Pola pikir kita juga tergerus oleh doktrin barat tentang kata SUKSES yang
ternyata abstrak atau tak nyata. Kebanyakan orang menganggap kesuksesan
adalah mempunyai uang banyak. Itu adalah hal yang aneh, jika sukses terhitung dari uang, maka pertanyaannya adalah . . .
Sukses harus mempunyai uang berapa banyak...???
Bagaimana tingkatan sukses...???
Apa yang bisa didapatkan ketika sukses...???
Mungkin sekedar itu pertanyaan yang akan membuat kita bingug. Kita akan
mudah membuat pertanyaan tentang sukses, tapi jawabannya tak akan
ditemukan karna itu relatif.
Mulai sekarang rubahlah pola pikir tentang kebudayaan kita
sendiri, kedaulatan pribadi, idiologi, dan konsep pencapaian diri tanpa harus berkiblat pada pemikiran orang lain. Kita yang tahu seberapa tingkatan kita dalam memaknai hidup yang berdasar pada hakikat seorang manusia. Hentikan pemikiran yang selalu saja ingin meniru trend, mencontek atau membajak jika ingin mendapat
kebahagiaan yang sejati.
****
****
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/
atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546








0 comments:
Post a Comment