Saturday, 27 June 2015

KOLABORASI


Seberapa jauh aku boleh mengkhawatirkanmu?
Seberapa jauh aku boleh memperdulikanmu?
Seberapa jauh pula aku boleh berharap demi kebaikanmu?
Doa, aku sendiri terus merapal doa untukmu.
Tapi, boleh kutanya apa kau keberatan jika aku sperti itu?
Aku hanya merasa kita sudah dekat.
Jadi apa yang kau rasa aku juga ingin rasa.
Lalu bagaimana pula aku bisa biasa?
Dan biarlah jika kau tak suka.
Tapi aku memang merasa . . .

...............................................................................................................

Akulah mahluk yang naif ketika bilang cinta.
Aku lebih senang melihat air matamu dan sedu sedan itu,
dari pada kau tertawa hanya untuk buatku bahagia.
Dan pada akhirnya tak satu setan pun tahu apa arti diriku buatmu . . .

....................................................................................................................

Pinjam dadamu dan peluklah aku.
Belailah kepalaku dengan kelembutanmu.
Ceritakan padaku tentang sebuah kisah.
Kehidupan yang pahit dengan selimut cinta yg manis.
Nyanyikan untukku sebuah lagu.
Hingga aku terlelap seperti bayi kesayanganmu.
Dan biarkan aku mendengkur dengan napas kedamaian,
lalu bermimpi dengan manis senyummu.
Maaf sayang, aku manja . . .
Karena cintamu terlalu perkasa.

.............................................................................................................




Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 

Saturday, 20 June 2015

KEDAULATAN IDEOLOGI


Keyakinan bukan kebenaran, tapi idiologi harus ada . . .

Dalam perkembangan dunia dengan berbagai modernitas yang secepat kilat pada masa ini, di era yang kita dituntut untuk mengupdate kehidupan secara aktif pada tiap tahun, minggu, atau bahkan detik. Entah itu tentang perkembangan teknologi ataupun pola pikir, mungkin akan muncul berbagai pertanyaan tentang masih adakah manusia yang berpikir dengan konsep ideologinya sendiri? Atau bahkan memang sudah tidak ada dan terganti dengan manusia yang hanya berpikir menggunakan kiblat pemikiran orang lain ataupun sekelompok golongan.

Di sini saya akan mencoba mencermati tentang life style barat dan timur, kita sering kali latah bahkan sering menunggu tentang apa yang akan kita tiru atau bajak dari life style barat. Kita juga sering mencoba untuk sepadan mirip dengan budaya, busana, life style, pola pikir atau idiologi mereka. 

Bahkan kalau bisa kita malah ingin seimbang bahkan harus sepadan dengan pemikiran barat. Itulah faktor yang menyebabkan kita lupa terhadap jati diri dan idiologi ketimuran yang beradat, berbudaya, bermoral seperti yang selalu kita junjung dan bangggakan, dulu. Dan karena kesibukan kita meniru, budaya yang kita miliki sendiri pun pada akhirnya terkikis, hampir hilang.

Idiologi pribadi kita juga telah terkontaminasi. Contoh kecilnya, pemikiran memaknai uang yang fungsi utamanya seharusnya mempermudah penukaran. Sekarang uang menjadi sesuatu yang sakral. Uang dianggap paling berguna menjadi obat segala obat, bahkan dianggap sebagai Raja yang dapat menjadi penentu kehidupan.

Pola pikir kita juga tergerus oleh doktrin barat tentang kata SUKSES yang ternyata abstrak atau tak nyata. Kebanyakan orang menganggap kesuksesan adalah mempunyai uang banyak. Itu adalah hal yang aneh, jika sukses terhitung dari uang, maka pertanyaannya adalah . . .

Sukses harus mempunyai uang berapa banyak...???
Bagaimana tingkatan sukses...???
Apa yang bisa didapatkan ketika sukses...???

Mungkin sekedar itu pertanyaan yang akan membuat kita bingug. Kita akan mudah membuat pertanyaan tentang sukses, tapi jawabannya tak akan ditemukan karna itu relatif. 

Mulai sekarang rubahlah pola pikir tentang kebudayaan kita sendiri, kedaulatan pribadi, idiologi, dan konsep pencapaian diri tanpa harus berkiblat pada pemikiran orang lain. Kita yang tahu seberapa tingkatan kita dalam memaknai hidup yang berdasar pada hakikat seorang manusia. Hentikan pemikiran yang selalu saja ingin meniru trend, mencontek atau membajak jika ingin mendapat kebahagiaan yang sejati.

 ****



Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 

Friday, 5 June 2015

MALAM UNTUK SOE HOK GIE


Soe Hok Gie . . .

Sebuah nama tentang wajah Indonesia. Tentang semangat dan sekaligus nasib kelu sebuah perjuangan. Tentang idealisme anak muda yang kukuh di tengah carut-marut penantian akan nasib. Nasib yang semua diri tidak pernah ada yang tahu, apa pastinya yang akan terjasi di negeri ini. 

Soe Hok Gie . . .

Sebuah nama yang bukan sekadar untuk diingat sebagai sejarah atau seperti tanda di tengah semesta. Lebih dari itu nama untuk membangkitkan tentang semangat bagi orang yang masih percaya akan keadilan dan kebenaran. Nama yang murung dan miris di tengah kepongahan orasi penguasa, kerasnya kaki-kaki militer, dan lacurnya kepala para akademisi. 

Hari itu saat saya sedang asyik berkelana di google, saya tak sengaja membaca sinopsis buku "Malam untuk Soe Hok Gie". Judulnya sangat membuat saya tertarik. Bagaima tidak, saya begitu mengagumi sosoknya. Alhasil saya pun mencari-cari buku tersebut, tapi memang sangat sulit sekali, hingga akhirnya saya menemukannya di sebuah toko buku online. Stock yang tertera tinggal satu dan itu pun sudah jadi stock gudang karena sudah begitu lama. Tanpa pikir panjang, saya pun segera memesannya. 

Dan sekitar empat hari, buku "Malam untuk Soe Hok Gie" itu pun sampai di tangan saya. bergegaslah saya membacanya. Satu hari saja sudah selesai, kisahnya unik dan sangat menarik. Gaya bahasa yang keren dan sebuah imajinasi yang sangat tinggi begitu indah disampaikan penulis bukunya. 
 
Herlinatiens, dalam novel ini mengingatkan kita nama indah itu. Tapi bukan sekadar sebagai prasasti indah seperti pada lembar-lembar buku sejarah yang seringkali meninabobokkan kita. Lebih dari itu. Ia menempatkannya sebagai laki-laki, dengan segala keterbatasan dan kelebihannya, yang dicintai banyak perempuan. yang ternyata juga bergulat dalam, dengan dan atas nama cinta. Cinta yang dirinya sendiri tidak sepenuhnya memahami, tapi ingin sekali dirinya merasai. 

Di sini ada tokoh seorang gadis yang bernama Kalsita. Gadis yang cerdas, pemberani dan begitu sangat mencintai Gie. Gadis itu bahkan bisa menakhlukkan Untung, A Yani, dan Soekarno hanya untuk lelaki kesangannya, Soe Hok Gie. Berkali-kali pula saya baca novel ini, dan tak pernah bosan. 

Ini bisa jadi referensi bagus bagi para pecinta sastra. Tapi saya rasa hanya cocok dibaca untuk yang sudah berumur 18th ke atas, karena genrenya yang merupakan novel dewasa. . . :)

Banyak yang cari buku ini, tapi jarang yang dapat tapi Alhamdulillah, keberuntungan berada di pihak saya.  Dan buku ini termasuk dari jajaran buku kesayangan saya . . .

*****



Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546