SAMPAI JUMPA ESOK
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu
Akbar.
Lailahailallah huwallahu Akbar,
Allahu Akbar Walillahilhamd.
Gema takbir terus berkumandang
menyentuh kalbu. Andai hari ini seperti dulu. Andai kenangan dulu tak luntur
seiring jalan kedewasaan kita. Rasa- rasanya ingin menaNgis, entah kerena apa. Tapi
sungguh aku tak ingin bersedih untuk saat ini.
Yai, meski kau telah tiada
meninggalkan kami anak dan cucumu. Meski kini tatap sendumu sudah tak lagi
memandang kami. Sungguh rasa rindu ini tak terbendung. Maafkan kami atas segala
khilaf. Malam ini langit penuh warna-warni. Hiasan kerlap-kerlip bintang
bertabur indah. Dddoooorrr, ddoorrr petasan juga bersambut meramaikan rayaMu. Satu
tahun sudah bukan?
Ya Allah, biasanya aku sudah di
tempat itu, tempat kelahiranku dengan segala kenangannya. Biasanya kami
berkumpul bersama menyambut hari fitri ini. Mak’e, malam ini apa kau sudah buat
anyaman ketupat? Biasanya kami berkumpul juga untuk membantumu membuat ketupat.
“Isinya jangan banyak-banyak Nduk.”
Kata Mak’e mengingatkan kami yang tak sadar mengisi beras terlalu banyak.
Kami hanya cengengesan dan terus
bercanda sambil mengisi anyaman ketupat dengan beras. Kami juga sibuk belajar
membuat anyaman ketupat. Yah, adikku bahkan sudah bisa. Tapi aku, aku tak
pernah bisa buat anyaman ketupat hingga sekarang. Entahlah. Itu terlalu rumit,
dan aku tidak sabar membuatnya.
Esok sholat Id, maaf kami belum
pulang. Tapi esok kami akan pulang. Malam ini juga kali pertama aku menyambut
fitri di kota ini. Masih terasa asing. Aku tak melihat keramaian. Hanya suara-suara
petasan yang menambah kerinduanku atas tanah kelahiran.
Mas Nanang, Lia, Ardi, kalian
sepupuku yang selalu aku rindukan. Bagaimana kabar kalian? Bukankah dulu
biasanya kita main bersama. Berlarian bersama lalu melihat festival takbir
keliling di simpang lima Pati. Tapi maaf hari ini aku belum pulang.
Anak-anak di depan rumah sibuk
main petasan. Berlarian sambil tertawa riang. Aku masih termenung diam duduk di
teras rumah membayangkan semuanya.
“Ayyooo buruan, kita jalan kaki ke
simpang.” Kata Lia
“Tapi kalau ketahuan Ardi dia bisa
nangis, kita lewat samping rumah saja ayoo.” Kataku bersemangat.
Maklum saja kami masih
kecil-kecil. Dan Ardi masih sekitar 3 tahunan. Tak mungkin jika kami ajak dia. Bukankah
itu akan menyusahkan jika nanti tiba-tiba Ardi menangis di jalan minta mainan.
Kali itu Aku, Risma adikku, dan Lia sepupuku berjalan berjingkat kemudian lari
menghindari Ardi. Tapi haaasss sial. Akhirnya Ardi menangis juga karena tahu
kami akan ke simpang secara sembunyi-sembunyi dan meninggalkannya. Terpaksa
kami ajak Ardi juga untuk lihat festival takbir keliling.
Sungguh menyenangkan. Tapi
lagi-lagi semua itu hanya tinggal sebuah kenangan. Kami sudah tak lagi bersama.
Kedewasaan memisahkan kenangan itu. Semua pergi dan sibuk dengan urusan
masing-masing. Ya, aku rindu sekali pada
kalian.
Waktu kecil juga biasanya aku
selalu merengek meminta kembang api. Tapi andai saja aku tidak seperti itu,
pastilah Bapak tidak susah dan membuang uangnya hanya demi sesuatu yang dibakar.
Dan lagi-lagi demi senyumku dan adikku, Bapak menuruti kami. Kali itu
menyenangkan sekali. Aku dengan segenap kegembiraanku berseru berteriak senang
dan sok berani.
“Akuuuuu, mana kembang apinya.” Kataku
meminta Bapak menyalakan kembang api.
Ujung kembang api pun ditempelkan
pada lilin yang menyala. Kerlipan apinya memancar begitu indah. Adikku sudah
memain-mainkannya. Tapi aku hanya bengong menatap kembang api dengan percikan
apinya yang tiba-tiba terlihat menakutkan.
“Aku tidak beraniiiiii pegang.” Kataku
mulai cemberut dan menyingkirkan tanganku dari Bapak yang menyodorkan kembang
api yang telah menyala padaku.
“Kenapa?” tanya Bapak.
“Takkuuuutttt.” Rengekku.
Dengan sigap Bapak ke belakang
rumah dan memotong pelepah daun pisang untukku. Ukurannya sekitar 30 cm. Kemudian
Bapak menancapkan kembang api itu ke ujung pelepah daun pisang.
“Naahh, dengan begini kau tidak
perlu takut kena percikan apinya.” Kata Bapak memberikan kembang api padaku.
Aku tersenyum begitu senang. Sudah
tak lagi takut. Kemudian memain-mainkan kembang api itu. Masa itu manis sekali.
Bukankah harusnya sekarang aku juga tersenyum. Ahh apa-apan ini, kenapa hatiku
kelabu? Andai saja semua masih seperti dulu. Dan ya, aku hanya bisa berandai-andai.
Tapi satu tahun ini, lebaran akan tanpa
Yai. Besok kami sekeluarga akan pulang ke sana. Mak’e, biasanya tiap kami
datang kau akan lupa nama kami. Aku tahu, rentetan waktu telah menggerus
ingatanmu. Tapi di dalam hatimu kau sungguh menyayangi kami. Andai saja Yai
masih ada bukankah dia yang akan tertawa sambil mengingatkan tentang siapa
kami?
Yah, semua telah berubah. Tapi rinduku
tak pernah berubah. Masa kecil dan semua kenangan itu masih lekat di dalam
otakku. Mak’e dan Yai. Begitu cucu-cucumu memanggil kalian. Bukan kami tak
ingin atau enggan memanggil kalian dengan sebutan mbah, eyang atau nenek dan
kakek. Tapi sungguh itu panggilan sayang kami untuk kalian. Selamat hari raya
Idul Fitri Mak’e dan Yai. Aku merindukan kalian semua. Sampai jumpa esok.








0 comments:
Post a Comment