Sunday, 27 July 2014

"SAMPAI JUMPA ESOK"







SAMPAI JUMPA ESOK


Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Lailahailallah huwallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.
Gema takbir terus berkumandang menyentuh kalbu. Andai hari ini seperti dulu. Andai kenangan dulu tak luntur seiring jalan kedewasaan kita. Rasa- rasanya ingin menaNgis, entah kerena apa. Tapi sungguh aku tak ingin bersedih untuk saat ini.
Yai, meski kau telah tiada meninggalkan kami anak dan cucumu. Meski kini tatap sendumu sudah tak lagi memandang kami. Sungguh rasa rindu ini tak terbendung. Maafkan kami atas segala khilaf. Malam ini langit penuh warna-warni. Hiasan kerlap-kerlip bintang bertabur indah. Dddoooorrr, ddoorrr petasan juga bersambut meramaikan rayaMu. Satu tahun sudah bukan?
Ya Allah, biasanya aku sudah di tempat itu, tempat kelahiranku dengan segala kenangannya. Biasanya kami berkumpul bersama menyambut hari fitri ini. Mak’e, malam ini apa kau sudah buat anyaman ketupat? Biasanya kami berkumpul juga untuk membantumu membuat ketupat.
“Isinya jangan banyak-banyak Nduk.” Kata Mak’e mengingatkan kami yang tak sadar mengisi beras terlalu banyak.
Kami hanya cengengesan dan terus bercanda sambil mengisi anyaman ketupat dengan beras. Kami juga sibuk belajar membuat anyaman ketupat. Yah, adikku bahkan sudah bisa. Tapi aku, aku tak pernah bisa buat anyaman ketupat hingga sekarang. Entahlah. Itu terlalu rumit, dan aku tidak sabar membuatnya.
Esok sholat Id, maaf kami belum pulang. Tapi esok kami akan pulang. Malam ini juga kali pertama aku menyambut fitri di kota ini. Masih terasa asing. Aku tak melihat keramaian. Hanya suara-suara petasan yang menambah kerinduanku atas tanah kelahiran.
Mas Nanang, Lia, Ardi, kalian sepupuku yang selalu aku rindukan. Bagaimana kabar kalian? Bukankah dulu biasanya kita main bersama. Berlarian bersama lalu melihat festival takbir keliling di simpang lima Pati. Tapi maaf hari ini aku belum pulang.
Anak-anak di depan rumah sibuk main petasan. Berlarian sambil tertawa riang. Aku masih termenung diam duduk di teras rumah membayangkan semuanya.
“Ayyooo buruan, kita jalan kaki ke simpang.” Kata Lia
“Tapi kalau ketahuan Ardi dia bisa nangis, kita lewat samping rumah saja ayoo.” Kataku bersemangat.
Maklum saja kami masih kecil-kecil. Dan Ardi masih sekitar 3 tahunan. Tak mungkin jika kami ajak dia. Bukankah itu akan menyusahkan jika nanti tiba-tiba Ardi menangis di jalan minta mainan. Kali itu Aku, Risma adikku, dan Lia sepupuku berjalan berjingkat kemudian lari menghindari Ardi. Tapi haaasss sial. Akhirnya Ardi menangis juga karena tahu kami akan ke simpang secara sembunyi-sembunyi dan meninggalkannya. Terpaksa kami ajak Ardi juga untuk lihat festival takbir keliling.
Sungguh menyenangkan. Tapi lagi-lagi semua itu hanya tinggal sebuah kenangan. Kami sudah tak lagi bersama. Kedewasaan memisahkan kenangan itu. Semua pergi dan sibuk dengan urusan masing-masing. Ya,  aku rindu sekali pada kalian.
Waktu kecil juga biasanya aku selalu merengek meminta kembang api. Tapi andai saja aku tidak seperti itu, pastilah Bapak tidak susah dan membuang uangnya hanya demi sesuatu yang dibakar. Dan lagi-lagi demi senyumku dan adikku, Bapak menuruti kami. Kali itu menyenangkan sekali. Aku dengan segenap kegembiraanku berseru berteriak senang dan sok berani.  
“Akuuuuu, mana kembang apinya.” Kataku meminta Bapak menyalakan kembang api.
Ujung kembang api pun ditempelkan pada lilin yang menyala. Kerlipan apinya memancar begitu indah. Adikku sudah memain-mainkannya. Tapi aku hanya bengong menatap kembang api dengan percikan apinya yang tiba-tiba terlihat menakutkan.
“Aku tidak beraniiiiii pegang.” Kataku mulai cemberut dan menyingkirkan tanganku dari Bapak yang menyodorkan kembang api yang telah menyala  padaku.
“Kenapa?” tanya Bapak.
“Takkuuuutttt.” Rengekku.
Dengan sigap Bapak ke belakang rumah dan memotong pelepah daun pisang untukku. Ukurannya sekitar 30 cm. Kemudian Bapak menancapkan kembang api itu ke ujung pelepah daun pisang.
“Naahh, dengan begini kau tidak perlu takut kena percikan apinya.” Kata Bapak memberikan kembang api padaku.
Aku tersenyum begitu senang. Sudah tak lagi takut. Kemudian memain-mainkan kembang api itu. Masa itu manis sekali. Bukankah harusnya sekarang aku juga tersenyum. Ahh apa-apan ini, kenapa hatiku kelabu? Andai saja semua masih seperti dulu. Dan ya, aku hanya bisa berandai-andai.
Tapi satu tahun ini, lebaran akan tanpa Yai. Besok kami sekeluarga akan pulang ke sana. Mak’e, biasanya tiap kami datang kau akan lupa nama kami. Aku tahu, rentetan waktu telah menggerus ingatanmu. Tapi di dalam hatimu kau sungguh menyayangi kami. Andai saja Yai masih ada bukankah dia yang akan tertawa sambil mengingatkan tentang siapa kami?
Yah, semua telah berubah. Tapi rinduku tak pernah berubah. Masa kecil dan semua kenangan itu masih lekat di dalam otakku. Mak’e dan Yai. Begitu cucu-cucumu memanggil kalian. Bukan kami tak ingin atau enggan memanggil kalian dengan sebutan mbah, eyang atau nenek dan kakek. Tapi sungguh itu panggilan sayang kami untuk kalian. Selamat hari raya Idul Fitri Mak’e dan Yai. Aku merindukan kalian semua. Sampai jumpa esok.





 



0 comments:

Post a Comment