Monday, 30 June 2014

Puisi Terkhir Untuk Manisku



Malam ini aku ada janji dengan Ira. Nonton film berdua. Pukul 19.00 tepat aku sudah sampai rumahnya. Mungkin juga gadis itu sudah berdandan cantik untuk menyambut kedatanganku. Dia teman kuliahku. Wanita yang sederhana, pintar dan punya pemikiran idealis yang tinggi. Sama sepertiku.
Aku sangat mengaguminya, mungkin juga karena kita satu tujuan. Semangat juangnya selalu menjadi hal yang aku kagumi. Dia juga selalu setia dan selalu ada untukku. Bahkan selalu mendukung apa yang aku lakukan untuk mewujudkan mimpi-mimpi idealisku. “Tok..tok…tok..!! aku mengetuk pintu. Tantenya Ira yang membukakan pintu dan menyambutku dengan ramah.
“Eh, Soe. Cari Ira? Sebentar ya Tante panggilkan.” Katanya ramah. Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Selang setelah itu Ira keluar. Cantik sekali. Dia mengenakan gaun berwarna merah muda dan terlihat begitu anggun. Rambutnya yang hitam dan lurus sebahu membuatnya semakin terlihat manis. Kami langsung bergegas pamit pada Tantenya Ira. Kami naik becak ke kampus. Yah, nonton film kali ini memang di kampus. Anak-anak sengaja menggelar acara itu untuk refreshing. Tadinya mau muncak ke gunung tapi dipikir-pikir belum ada waktu yang tepat.
“Kau cantik Ra.” Kataku sambil memandangnya.
“Terima kasih Soe, kau juga tampan.” Katanya tersipu malu.
Sepanjang jalan hanya dua kalimat itu yang terucap. Kami malah saling diam. Mungkin juga Ira merasa malu kencan berdua denganku. Atau barang kali merasa canggung atas ucapanku waktu itu. Seminggu lalu aku bertanya padanya “Apa yang kamu rasakan saat dekat denganku Ra?” tapi dia tidak menjawab hanya menatapku malu.
Akhirnya kami sampai di kampus. Anak-anak sudah ramai duduk di pelataran halaman Fakultas Sastra. Layar dan lampu proyektor juga sudah terpasang. Film pun dimulai. Semua menyimak dengan serius. Kali ini drama percintaan yang diputar. Adegan romantis dan menyedihkan. Sesekali aku mencuri pandang menatap Ira. Gadis itu selalu saja manis. Senyumnya juga selalu menenangkan.
Pukul 20.47 film usai diputar. Kami bergegas pulang. Sudah malam juga, tak baik seorang gadis jalan dengan lelaki malam-malam.
“Terima kasih untuk malam ini Soe.” Kata Ira dengan senyum manisnya.
“Tak usah berterima kasih. Aku yang seharusnya berterima kasih kau sudah mau aku ajak kencan walaupun hanya nonton film di kampus.”
“Emm. Oh iya Soe, bagaimana dengan tulisan-tulisanmu?”
“Cukup baik. Aku rasa Pemerintahan Soekarno perlu kritik lebih tajam lagi.”
“Kau hebat Soe.” Katanya memujiku.
Ira selalu memuji semua karya dan tulisanku. Katanya tulisanku selalu tajam dalam mengkritik pemerintah. Puisiku juga selalu indah menggambarkan realita zaman ini yang penuh dengan permainan politik. Dia juga bilang kalau aku bisa menggambarkan segala bentuk kehidupan dan dapat menggugah hati setiap pembaca. Idealisku tinggi. Saat dia berkata begitu aku hanya tersenyum dan malah terus mengaguminya yang begitu menyukai mimpi-mimpi idealisku.
Sampai di rumah Ira, aku segera berpamitan. Mengucapkan selamat malam dan semoga tidur nanti bermimpi indah. Sedikit kata-kata manis untuk gadis yang aku cintai. Ehm, mungkin lebih tepatnya aku kagumi. Aku tidak tahu apa itu cinta. Aku masih mengartikan bahwa cinta yang berujung pada perkawinan itu tidaklah suci. Bagiku tidak ada cinta sejati karena yang ada hanyalah nafsu. Dan aku hanya mengagumi Ira.


-Œ-
            Pagi ini aku harus mengurus rapat mahasiswa untuk aksi demo minggu depan. Seperti biasa mengkritik tajam pemerintah. Penguasa tak boleh menang dengan elite politiknya. Dan kami para mahasiswa juga tak boleh jadi pecundang. Aku berjalan menuju ruang rapat mahasiswa. Baru saja menaiki tangga aku bertemu dengan Maria.
            “Gie, kau mau ke mana?” tanyanya dengan senyum ceria.
            “Rapat. Kau sendiri?”
            “Sebenarnya mau bicara berdua denganmu. Tapi ya sudah, nanti saja selesai kau rapat.” Kata Maria.
            “Baiklah nanti aku akan menemuimu.”
            Maria berlalu dan aku segara menaiki tangga lagi. Beberapa teman juga sudah terlihat memasuki ruang rapat. Aku pun ikut bergegas masuk ke ruangan dan mempersiapkan segala proposal rencana. Duduk di sebelah Ira yang juga ikut rapat ini. Masih menunggu teman-teman lainnya yang belum datang.
Bertemu dengan Maria tadi aku jadi teringat saat kemarin tiba-tiba aku melihat Maria menemui Ira. Aku sengaja mengikuti mereka berdua. Penasaran kenapa tiba-tiba Maria terlihat serius ingin menemui Ira dan membicarakan sesuatu yang sepertinya menjadi rahasia wanita.
Mereka berdua duduk di taman. Aku mengikuti mereka dan mencoba mendengarkan pembicaraan mereka. Jelas sekali terdengar, bahkan aku bisa menyimaknya.
“Ra, menurutmu bagaimana dengan Gie?” tanya Maria pada Ira.
“Soe? untuk apa kau menanyakannya?” tanya Ira, heran.
“Aku suka dengan Gie, wajar kan? dia tampan, pintar dan terkenal.”
“Iya. Kau serius suka dengan Soe?”
“Tentu. Kau tidak ada hubungan apa-apa dengan Gie kan?”
“Tidak. Kami berteman.”
“Baguslah, karena aku tidak mau bersaing.”
Cukup lama mereka berbincang. Dan aku masih tidak mengerti kenapa Maria menanyakan tentang aku pada Ira. Aku rasa Ira juga pasti sakit dengan pertanyaan Maria. Aku rasa Ira juga punya perasaan padaku. Tapi Maria juga sama, dia menyukaiku.
Lima menit berlalu, teman-teman sudah lengkap berkumpul di ruangan rapat. Aku memulai rapat dan memberikan penjelasan. Membagikan proposal ke masing-masing teman yang mengikuti rapat.

-Œ-
            Akhirnya rapat selesai. Minggu depan rencana demo akan terlaksana. Aku melihat jam di tanganku ternyata sudah pukul 12.00 waktunya makan siang. Aku bergegas keluar ruangan bersama Ira.
“Hai Gie?” sapa Maria yang sudah berdiri di depan pintu ruangan rapat. Wajahnya terlihat ceria sekali. Maria, dia gadis yang baik, cantik dan selalu ceria. Katanya, Papanya pengagum beratku. Dan entahlah, aku tidak tertarik. Tapi aku sedikit tertarik juga dengan Maria dan segala perhatiannya padaku.
“Gie, kau sudah makan? Ayo kita makan bersama.” Kata Maria manja, sambil menggandeng lenganku.
“Belum. Kau mau ikut dengan kami Ra?” kataku sambil menatap wajah Ira.
“Tidak Gie. Kalian saja, aku nanti saja.”
Maria terus menarik tanganku dan menyuruhku cepat. Entah kenapa aku jadi merasa bersalah saat melihat wajah murung Ira yang melihat Maria begitu dekat denganku. Sepertinya gadis itu cemburu. Matanya bahkan mulai berkaca-kaca dan langsung bergegas pergi.  Aku rasa Ira cemburu karena lelaki terdekatnya bersama gadis lain.
Aku dan Maria makan siang bersama. Lagi-lagi dia bercerita cerewet sekali tentang Papanya yang sangat mengagumiku. Dia juga menunjukkan koran hari ini. Maria bilang Papanya berkomentar baik tentang tulisanku di koran. Gadis ini selalu saja menarik dan cantik. Dia puteri seorang yang kaya raya. Wajar jika dia agak manja dan hidupnya glamour.
“Berhentilah memujiku Maria.” Kataku padanya
“Kenapa Gie? kau hebat dan aku suka padamu.” Katanya manja.
“Bagaimana jika sekali-kali kau ikut mendaki gunung seperti Ira.”
“Aaah Gie, tidak bisa. Papaku tidak akan mengijinkanya.”
“Baiklah.” Kataku sambil menghela napas.
“Kenapa setiap kita duduk berdua selalu saja ada pembicaraan tentang naik gunung. Kenapa tidak membicarakan tentang kau atau kita.” Kata Maria mulai sebal.
Aku hanya diam. Aku tidak tahu kenapa Maria tidak seperti Ira yang bisa satu pemikiran dan bahkan satu hobi denganku. Apa salahnya dengan naik gunung. Bagiku perjalanan pendakian adalah perjalanan untuk mencari hakikat kehidupan manusia. Dengan itu kita bisa mencintai alam Indonesia yang sebenarnya. Daripada mendengar janji-janji politik pemerintah yang seperti sampah.
“Gie, kau mau kencan denganku nanti malam?”
“Baiklah. Papamu tidak marah?”
“Tidak. Untuk apa Papa marah. Ini urusan anak muda.” Kata Maria begitu semangat.

-Œ-
            Malam ini aku jalan kaki ke rumah Maria. Aku tahu ini bukan ide yang baik, datang menjemput anak gadis dari keluarga kaya dengan jalan kaki. Tapi aku tidak peduli. Dan Maria justru malah senang. Malam ini jalanan cukup lengang. Hanya ada orang-orang malang di pinggir-pinggir jalan. Mereka membaringkan tubuhnya yang lelah dengan keadaaan zaman ini. Mencoba bermimpi hidup di Negara yang indah. Kaum-kaum usang banyak yang tiduran di luar istana presiden. Aku jadi terpikir rencana demo untuk minggu depan. Semoga berjalan dengan lancar.
            Sampai di rumah Maria. Senyumnya langsung terlukis ceria begitu melihatku. Berbeda dengan Ira. Maria justru langsung memujiku sebelum aku memujinya. “Kau tampan sekali Gie malam ini.” Katanya sambil membelai wajahku. Aku hanya tersenyum. Bergegas pamit dan segera mengajaknya pergi. Papa Maria sepertinya tidak terlalu suka dengan aku, walaupun dia mengagumi tulisanku. Jelas kalau begitu. Aku hanyalah seorang aktivis. Semua karya tulisanku banyak mendapat hujatan-hujatan dari orang-orang yang merasa tersindir. Parahnya aku juga selalu mendapat teror dari apa yang aku lakukan. Tapi sekali lagi aku hanya mencari kebenaran dan keadilan.
            Malam ini kami hanya jalan-jalan menikmati suasana malam di Jakarta. Maria juga terlihat bahagia bahkan terus menggandeng lenganku. Makin cantik dengan gaun warna hitamnya. Terlihat seperti gadis-gadis borjuis. Dari Ira dan Maria memang banyak perbedaan. Ira lebih kalem, sederhana dan selalu menyembunyikan perasaannya. Sedangkan Maria lebih agresif dalam menunjukkan perasaannya.
            “Papamu sepertinya tidak suka denganku.” Kataku memulai pembicaraan.
            “Ah itu perasaanmu saja Gie. Papaku menyukai semua karya-karyamu.”
            “Iya hanya karya-karyaku. Maria, tidak ada orangtua yang mau membiarkan anak gadisnya menjalin cinta apalagi menikah dengan seorang aktivis sepertiku. Mereka akan berpikir beberapa kali. Itu semua mereka lakukan demi keselamatanmu juga.” Kataku panjang lebar dan membuat senyum Maria menghilang.
            “Kau tidak mencintaiku Gie?” Tanya Maria sambil menatap mataku.
            “Cinta? Aku tidak tahu. Tapi aku suka padamu.”
Langkah Maria terhenti saat aku berkata seperti itu. Aku tahu dia tidak suka dengan perkataanku. Aku tahu apa yang ada dalam pikirannya. Dia ingin menjalin kasih denganku secara lebih. Tapi aku tidak bisa. Mimpi-mimpi idealisku jauh lebih besar.
“Gie, kau suka dengan Ira?” tanya Maria membuatku kaget.
“Ira. Aku mengagumi Ira dan iya aku suka dengannya.” Kataku membuat mata Maria berkaca-kaca.
“Lalu siapa yang kau cintai Gie?” tanyanya dengan wajah yang mulai menyedihkan.
Aku masih diam dan tidak menjawab. Pikirku apa Maria masih belum mengerti. Ada hal lain yang aku pikirkan selain cinta. Baiklah aku memang menyukai Ira dan juga menyukai Maria. Aku akui aku mungkin egois dan terlihat seperti mempermainkan kedua gadis itu. “Gie, aku mau pulang.” Tiba-tiba saja Maria berkata seperti itu. Dia juga terlihat mengusap airmata yang tak sengaja menetes dari sudut matanya. Aku mengantarkannya pulang. Maria juga berjalan dengan cepat. Tidak lagi menggandeng lenganku.
Usai mengantarkan Maria aku bergegas pulang. Mungkin ini terakhir aku bertemu Maria. Papanya juga terlihat marah dan memintaku untuk tidak berhubungan lagi dengan Maria. Hari ini aku sudah mengacaukan hati dua gadis itu. Maafkan aku gadis-gadisku. Aku menyukai kalian tapi aku akui, kini aku juga terlibat dalam hal yang kalian sebut cinta. Kalian gadis yang baik. Ira, kau selalu bisa mengerti aku dan semua mimpi-mimpi idealisku. Aku mengagumimu tapi kau selalu saja bersembunyi dengan perasaanmu terhadapku. Dan Maria, kau gadis yang cantik. Selalu ceria dan perhatian. Tapi kau tidak pernah mengerti mimpi-mimpiku. Sungguh maafkan aku.

-Œ-
         Sebulan berlalu. Hari ini 16 Desember 1969. Besok aku tambah usia. Dan tak satupun di antara kedua gadis itu ada yang menemaniku. Senja ini di atas puncak Semeru, matahari terlihat cantik sekali. Sunset. Udara juga bertambah dingin dan membuatku serasa beku. Jujur aku merindukan kalian. Dan di saat aku mulai mengejar apa itu cinta, semua menolakku. Ira juga tak lagi bisa aku temui. Tantenya melarangku untuk menemuinya.
        Yah, ini sebuah konsekuensi dari sikap idealisku. Tak heran akan ada banyak orang yang memusuhiku. Tapi bagiku lebih baik diasingkan dari pada menyerah pada kemunafikan. Dan sekarang tidak akan ada juga gadis  yang  mau berhubungan denganku, but life must go on. Mungkin karena mereka tidak berani atau bisa saja jijik berhubungan dengan lelaki yang tidak jelas dan selalu mengkritisi siapapun.
            Ira, aku juga rindu bersamamu. Mendaki gunung bersama dan mamandangi hijaunya alam dan bukit-bukit. Melihatmu tertawa ceria saat memandangi bunga-bunga edelweis. Rindu juga mendengar kau memanggilku dengan nama Soe. Semoga kau selalu mengagumkan dengan semangat juangmu yang juga selalu idealis. Maria, aku juga merindukanmu. Melihatmu tertawa ceria dengan tingkah manjamu saat merayu dan merajuk. Semoga kau juga selalu bahagia dengan hidupmu.
            “Loe gak turun Gie? Cuaca sudah semakin buruk. Sebentar lagi hujan turun.” Kata Doni temen Mapalaku.
            “Ntar gue nyusul. Oh iya ini gue nitip, tolong berikan batu dan daun cermara ini buat  temen-temen.” Kataku sambil memberikan batu dan daun cemara pada Doni.  

              “Ah loe kurang kerjaan Gie. Hahahah.” Kata Doni mengejekku.

            “Tak apa, mereka pasti juga senang. Itu batu berasal dari tanah tertinggi di pulau Jawa. Jangan lupa hadiahkan pada gadis-gadis di Fakultas Sastra.”

            “Okey. Gue turun duluan Gie. Loe hati-hati ya.” Kata Doni bergegas turun dari puncak.

Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Hari ini rasanya aku hanya ingin diam dan duduk termenung di sini. Mengenang kebersamaanku dengan Ira dan Maria. Menulis puisi untuk kedua gadis manis yang aku sukai. Kata-kata terakhir untuk mereka. Ira, Maria, terima kasih untuk segala kisah dan perasaan yang telah kalian tumbuhkan di hatiku. Aku hanyalah orang malam yang membicarakan terang. Aku hanyalah orang malam yang menentang kemenangan oleh pedang. Maafkan aku.

Ada orang yang menghabiskan waktunya ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Mirasa
Tapi aku ingin menghabiskan waktuku di sisimu... sayangku...
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danau
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biapra
Tapi aku ingin mati di sisimu... Manisku...
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya,
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu
Mari sini sayangku...
Kalian yang pernah mesra,
Yang simpati dan pernah baik padaku,
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung...
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita tak kan pernah kehilangan apa-apa
Nasib terbaik adalah tak pernah dilahirkan
Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda
Mahluk kecil...
Kembalilah dari tiada ke tiada...
Berbahagialah dalam ketiadaanmu...
--Soe Hok Gie

Udara mulai pengap bau belerang. Dadaku juga sesak sulit menghirup oksigen. Hujan deras turun. Dingin makin mencekik. Letupan kawah Jonggring Saloko juga mulai terdengar jelas. Aku masih duduk diam usai menulis puisiku dan tenang dalam heningnya alam. Perlahan bebatuan mulai berguguran dan kabut tebal menyelimuti puncak Semeru. Asap beracun dari kawah mulai turun. Dan semua gelap. 

by : Icha Mamusu

CERPEN "SISTEM PERASAAN"



SISTEM PERASAAN

Hati adalah organ tubuh yang paling kompleks di dalam tubuh manusia dan mempunyai peranan penting dalam proses metabolisme. Sama halnya dengan hati dalam makna konotasi. Hati dalam makna konotasi juga mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia, terutama dalam membangun kisah yang berhubungan dengan cinta. Jika organ hati adalah termasuk bagian sistem ekskresi, maka hati dalam arti konotasi adalah bagian dari sistem perasaan.
Organ hati pada manusia juga mempunyai keunikan. Organ hati mampu memperbaharui dan menumbuhkan kembali sel-sel yang telah rusak karena luka ataupun penyakit jangka pendek. Tapi walaupun begitu, hati juga bisa mengalami kerusakan yang parah dalam jangka waktu yang lama. Jika sudah seperti itu, maka hati akan mengalami kerusakan fungsi secara permanen.
Sama juga dengan hati secara konotasi. Hatiku sudah seperti itu semenjak dia pergi. Dialah penyakit jangka panjang yang membuat sistem perasaanku rusak. “Lebih baik memang kita putus saja Ca.” Kata itu masih terus saja membayang di ingatanku. Yah, sesuatu yang membuat sistem perasaanku sakit dalam jangka panjang.
 Malam itu aku pikir akan jadi malam yang paling indah untuk aku lewati dengannya. Pukul 19.05 dia sudah datang menjemputku. Kami pergi makan malam bersama di sebuah kafe dekat dengan taman kota. Kafe tempat favorit kami berdua.
Malam minggu suasana kafe cukup ramai. Banyak juga keluarga yang menghabiskan waktu bersama, sekelompok remaja yang menghabiskan waktu nongkrong, dan rekanan kerja yang asyik berkumpul membahas agenda baru untuk kesibukan selanjutnya. Di sekitar juga banyak pasangan muda-mudi yang menghabiskan waktu berdua, saling merajut kata-kata cinta dan terbuai dalam sebuah kisah cinta. Kami memesan dua porsi nasi goreng pedas kesukaan kami. Dan juga dua jus apel.
“Kau cantik sekali malam ini Ca.” Kata Farel tersenyum manis memandangku.
“Terima kasih. Kau juga tampan sekali.” Kataku tersipu malu.
Beberapa menit kemudian pesanan kami datang. Semuanya masih biasa saja, tak ada hal aneh yang aku rasakan. Namun setelah kami selesai makan bersama, tiba-tiba Farel mengatakan sesuatu yang membuat hatiku bekerja keras untuk memahami sistem perasaanku. Sesuatu yang lebih terasa pedas dari nasi goreng yang tadi usai kami makan.
“Ca, maafkan aku selama ini aku sudah berbohong padamu.” Kata Farel tertunduk tak berani menatap mataku.
“Berbohong tentang apa Farel?” tanyaku penasaran.
“Akuuuu, emm akuuu mencintai wanita lain, Ca.”
“Apaa? Kamu pasti bercanda kan Farel?” aku masih mencoba tenang.
Aku terdiam saat Farel mencoba menjelaskan semuanya. “Ca, maafkan aku. Aku selingkuh di belakangmu. Sebenarnya di 6 bulan jadian kita ini aku juga menjalin hubungan dengan wanita lain. Dia teman dekatku dulu. Kau ingat Ca, saat kau dulu masih bersama dengan Ardi. Saat itu hatiku hancur sekali karena aku juga menyukaimu. Tapi aku lebih memilih melepaskanmu.” Aku tersentak kaget karena Farel membahas masalah itu lagi.
Aku masih diam. Mataku kini mulai berkaca-kaca. Farel kembali melanjutkan pembicaraannya. “Dan begitu aku tahu kamu putus dengan Ardi aku mencoba melebur rasa benciku terhadap kalian berdua. Aku tidak bisa berbohong kalau aku memang masih mencintai kamu. Di saat itulah aku mencoba masuk ke dalam hatimu lagi hingga kita menjalin kisah cinta ini.” Ya Tuhan, apa yang dilakukan Farel. Kenapa dia tega padaku. Selama ini, 6 bulan dia anggap semua ini apa?
Aku kehabisan kata-kata tak bisa bicara. Rasanya lidahku kelu. Farel menata kata-kata lagi kemudian kembali bicara. “Wanita yang saat ini juga bersamaku itu namanya Maya. Kami kenal dekat saat aku patah hati denganmu. Mulai saat itulah aku merasa nyaman dengan dia. Aku merasa dia selalu bisa mengerti aku. Dan aku juga mencintainya.” Pipiku mulai basah karena air yang menetes dari sudut mataku. Aku diam tertunduk mengusap tangisku.
Apa maksud Farel, ini gila. Apakah dia hanya ingin balas dendam saja karena dulu aku tidak menerima cintanya? tapi itu kan masa lalu. Saat itu memang aku tidak bisa karena aku sudah bersama Ardi. Dan waktu itu aku hanya menganggap Farel sahabatku. Setelah aku putus dengan Ardi, memang aku kembali berkomunikasi lagi dengan Farel. Dan saat itulah aku mulai jatuh cinta padanya.
Memang salahku, dulu mungkin aku menyakiti hati Farel karena aku juga memintanya untuk tidak menghubungiku lagi. Tapi sekarang kenapa jadi begini, di saat aku benar-benar mencintainya. Bahkan hari ini di 6 bulan jadianku dengannya, dia membuat seluruh sistem perasaanku serasa berhenti. Sakit sekali.
“Kau tega Fareellll!!” kataku serak menahan tangis.
“Maaf Ca. Aku tahu ini tidak adil bagi kamu. Tapi aku juga sayang sama kamu walaupun perasaanku ke Maya juga lebih besar.”
“Maksud kamu apa Farel, kamu mau serakah atas hubungan cinta kamu. Kamu mau aku dan Maya menjadi kekasihmu? Begitu?” kataku dengan nada yang agak meninggi.
“Bukan begitu Ca, tapi aku juga sayang kamu. Aku juga berat melepaskanmu.” Kata Farel menggenggam tanganku.
“Baiklah, sekarang kau lebih pilih Maya atau aku?” kataku melepas genggaman tangannya.
“Aku tidak tahu.” Kata Farel menatapku kasihan.
“Apa Maya tahu soal ini?”
“Maya tidak tahu, Ca.”
“Berapa lama kalian jadian?”
“Sama seperti aku dan kamu, 6 bulan.”
Hatiku serasa ditampar. Jantungku berdegup cepat. Otakku bahkan terasa panas sekali. “Aku mau pulang!!” kataku bergegas berdiri dan langsung ke luar kafe. Farel buru-buru ke kasir kemudian berlari mengikutiku. Aku mempercepat jalanku. Tidak peduli jika aku harus pulang dengan jalan kaki. Farel berlari mengejarku. Tangannya meraih lenganku. Dan aku berhenti.
Aku benar-benar tak kuat lagi menahan tangisanku. “Aku antar pulang Ca, kau jangan pulang sendirian. Aku sayang sama kamu.” Kata Farel. Hatiku bergumam menyalahkan Farel. Jika dia sayang, tak seharusnya dia tega seperti itu. Aku hanya bisa diam dan memilih pulang bersama Farel. Sepanjang jalan kami saling diam. Tak ada ucapan sepatah kata pun.

*****
            Farel tak pernah tahu bagaimana rasanya jika sistem perasaan itu rusak. Itu sama saja membunuh semua kisah yang sudah aku rajut di depan mataku. Begitu juga dengan hatiku yang sudah terlanjur menyusun mimpi dan mengurai racun-racun luka yang telah dia berikan.
Aku masih tidak mengerti. Apakah ini hanya luka kecil yang Farel buat untukku? Kenapa hatiku masih bisa memperbaharui dan menumbuhkan kembali sel-sel cinta yang telah rusak sehingga aku bisa terus membenarkan perasaanku terhadapnya.
            Aku tidak dapat menyalahkannya meski dia telah mencintai wanita lain. Hari itu tiga hari setelah kejadian di kafe, aku bahkan masih berkomunikasi lagi dengan Farel. Masih seperti biasa dan seperti tidak ada apa-apa. Aku mencoba melakukan hal-hal manis  untuk membuat Farel kembali padaku.
            “Aku rela jadi yang kedua Farel. Asal nanti kau bisa secepatnya memilih antara aku dan Maya.” Kata itu tiba-tiba saja aku ketik dengan cepat lalu aku kirimkan ke Farel melalui pesan singkat. Beberapa menit kemudian Farel membalasnya. “Kau yakin Ca, baiklah aku akan secepatnya memilih.” Entah apa yang membuatku gila. Aku rasa hatiku terlalu canggih sehingga bisa dengan cepat meregenerasi sel-sel cinta baru dan membenarkan apapun yang dilakukan Farel.
            “Kau sedang apa sekarang, sudah makan?” aku kembali mengirimkan pesan padanya. Handphoneku berderit, ada balasan pesan darinya “Aku sedang keluar bersama Maya, makan malam bersama.” Ya Tuhan, dadaku serasa sesak. Hatiku serasa ditusuk-tusuk. Ada bongkahan kelu yang menyekat tenggorokanku dan menjadikannya sakit sekali. Aku tidak membalas pesannya lagi.

*****
            Satu minggu setelah itu Farel mengirimiku pesan. Dia bilang “Lebih baik memang kita putus saja Ca.” Airmataku membuncah tak sanggup lagi aku tahan. Semenjak hari itu aku memutuskan untuk benar-benar mengakhiri hubunganku dengan Farel. Sistem perasaanku sudah benar-benar rusak.
            Hari-hari aku lewati tanpa Farel. Tak ada lagi kisah yang indah antara aku dan dia. Aku benci jika ingat sikapnya yang tega. Tapi setengah hatiku masih terbawa dan menyatu dengan siluetnya. Hari-hari kosong aku lewati tanpa mau lagi menyebut tentang cinta. Mencoba berbohong kalau aku tidak pernah mencintainya.
            Dan benar, manakala hati berbicara tentang cinta. Maka sistem perasaan akan memprosesnya menjadi sebuah memori di dalam ingatan yang akan terus diingat. Parahnya lagi, ingatan itu menjelma menjadi kaset usang berlagu kenangan yang terus aku putar. Aktivitas apapun yang aku lakukan, di mana pun aku berada, tetap saja hatiku membicarakannya.
            Aku mencoba menyibukkan diri dengan apapun itu dan mencoba memulihkan sistem perasaanku. Aku tahu dan aku harus yakin bahwa yang nama kebahagian itu pasti ada. Tuhan bahkan sudah membiarkan aku untuk lebih memilih melepaskan Farel. Ini semua yang terbaik. Dan Farel bukan yang terbaik untukku. Mungkin jika hubungan kami hanya sebatas persahabatan, tak akan pernah ada sistem perasaan yang rusak. Semua sudah terlanjur.
            Mataku terlalu canggih menangkap bayangan cinta itu. Sehingga kisah itu  kemudian diteruskan masuk ke sistem ingatanku dan mengantarkannya sampai ke sistem pusat perasaanku. Hatiku mencintai kegelapannya. Dan bibirku membenci semua sikapnya.

*****
            Dua tahun setelah semua kejadian itu hidupku mulai berubah. Hatiku kembali pulih karena sebentuk kisah baru. Kisah yang merajut sel-sel cinta baru untuk sistem perasaanku. Mataku menangkap kasih baru yang mengajarkan aku tentang kisah yang tak hanya melihat sisi romantisme. Tapi cinta yang memandang sebuah hubungan dewasa menjadi sebuah komitmen untuk kehidupan selanjutnya. Sebuah kisah yang aku sendiri mantap menjalaninya bersama Misbah.
            Aku mencintainya. Bahkan kini kami mulai menjalani hubungan itu dengan serius. Saling percaya dan berkomitmen untuk bertahan dengan satu cinta. Yah, aku sudah melupakan sakit hatiku pada Farel. Saat ini, mulai dari aku melepaskan semuanya aku hanya ingin menjalin kisah baru bersama Misbah.
            Namun di saat semuanya hampir siap melaju pada keindahan baru. Siluet kenangan itu kembali melintas di depan mataku. Farel kembali menyapa dan menghubungiku. “Maaf aku menghubungimu lagi Ca, aku hanya ingin tahu kabarmu.” Pesan itu dia kirimkan lewat e-mailku. Kami kembali berkomunikasi lagi. Dia juga menceritakan semuanya. Tentang hubungannya dengan Maya yang berakhir karena Maya lebih memilih kembali pada mantan kekasihnya dulu sebelum dengan Farel.
            Farel    : Aku minta maaf, aku menyesal Ca.
            Caca    : Iya, Farel. Sudahlah aku tak mau mengingat itu lagi.
            Farel    : Sekali lagi maafkan aku Ca. Aku salah sudah membuatmu luka. Aku salah memilihnya.
            Caca    : Semua sudah berlalu Farel. Aku sudah memaafkanmu. Semoga kau mendapatkan yang lebih baik.
            Farel    : Terima kasih Ca. Semoga kau bahagia dengannya.
Sampai di situ akhir dari percakapanku dengannya. Semua kembali menjadi biasa. Tak ada lagi perasaan yang harus aku pertahankan untuk Farel. Rasa sakit itu sudah melebur dan membentuk hati baru, sistem perasaan baru bersama kisah cinta yang sekarang aku jalin bersama Misbah. Hatiku juga sudah tidak memutar lagu kenangan lagi.
Hatiku kini sudah berevolusi menjadi sebuah hati baru yang memutar lagu-lagu indah. Lagu-lagu indah yang menjadi pengantar kisahku dengannya. Lagu rock n roll kesukaannya. Lagu-lagu yang membuatku belajar bersamanya bahwa hidup memang harus like a rolling stone. Hidup harus apa adanya seperti batu yang menggelinding. Kita harus tetap kuat ke mana pun arah yang kita ambil walau segala hambatan menghadang perjalanan kita.
Dan saat hati berbicara. Maka saat ini dia akan berkata bahwa aku mencintai Misbah dan hanya ingin bersamanya. Menjalin kasih dan membuat hidup lebih berarti. Misbah lelaki yang terbaik untukku. Lelaki yang bisa menghargai aku sebagai wanita dengan segenap perasaan dan logikanya. Lelaki yang bisa memberikan aku hati dan sistem perasaan baru tanpa lecet ataupun luka sekali pun. 

*****

by : Icha Mamusu

Wednesday, 18 June 2014

CERPEN BUKAN AKU TAK SAYANG



BUKAN AKU TAK SAYANG

Akhirnya semua masakan sudah siap, tinggal aku hidangkan di meja makan. Tok, tok tok!! suara orang mengetuk pintu rumahku. Aku pun bergegas membukakan pintu. Cukup terkejut karena yang datang adalah Vanya, mantan pacar suamiku dulu. Senyumku serasa pudar tapi aku masih mencoba ramah.
“Assalamu’allaikum, Arum.” Katanya tersenyum ramah.
“Wa’allaikumsalam, silakan masuk.” Aku mempersilakan Vanya masuk dan duduk.
“Maaf aku mengganggu. Aku ke sini mau minta bantuan sama Mas Zen.” Katanya menjelaskan.
“Bantuan apa?” tanyaku penasaran.
Belum sempat Vanya menjawab, Mas Zen sudah menyusul ke ruang tamu. “Siapa yang datang Bunda?” tanyanya. Aku menatap mata Mas Zen yang juga kaget dengan kedatangan Vanya. Mas Zen juga langsung diam. Aku memang selalu tidak suka dengan Vanya. Dari dulu sejak aku pacaran dengan Mas Zen, aku selalu meributkan tentang Vanya. Bagaimana tidak, dia pacar pertama Mas Zen.
Mereka putus karena hubungan mereka tidak direstui oleh orangtua Mas Zen.  Dan dari dulu juga, Vanya terus berusaha mengejar Mas Zen. Tapi sekarang entahlah. Kami juga sudah lama tidak bertemu dan tidak pernah lagi berkomunikasi. Tapi kali ini tiba-tiba saja dia datang kembali.
“Biar aku buatkan teh untuk kalian.” Kataku langsung bergegas ke dapur.  Suamiku berbicara dengan Vanya. Rasanya wajahku sudah pucat. Ada suatu bongkahan besar yang menghantam hatiku. Sungguh rasanya aku kembali cemburu. Ya Allah, aku tidak boleh membuat Mas Zen jengkel dengan rasa cemburuku yang selalu menyebalkan.
Lima menit aku kembali, membawa dua cangkir teh untuk mereka. Vanya masih tersenyum ramah, aku membalasnya dengan senyuman yang sedikit kecut. Entahlah, rasanya susah menolak rasa tidak sukaku terhadap Vanya.
“Arum, usia kandunganmu sudah berapa bulan?” tanyanya perhatian.
“7 bulan.” Jawabku pendek.
“Waaahh, kita sudah lama ya tidak bertemu. Aku ikut senang kalian bisa bahagia. Bahkan sebentar lagi kalian akan dikaruniai seorang anak. Kau beruntung Rum, bisa diperistri oleh Mas Zen. Aku saja bahagia waktu dulu kami masih pacaran. Andai saja aku bisa beruntung sepertimu Rum.” Kata Vanya.
Aku terdiam tak bisa berkata lagi. Yang ada dipikiranku, apakah Vanya tidak punya perasaaan atau pura-pura tidak tahu. Harusnya dia tahu aku tidak suka jika dia menyinggung masa lalunya dulu dengan Mas Zen. Mukaku serasa sudah merah padam.
“Oh iya, jadi intinya Minggu depan kau meminta bantuanku untuk menjadi EO di acara Kakakmu? Baiklah, mungkin aku akan minta temanku untuk ikut membantu.” Kata Mas Zen mencairkan suasana.
“Iya. Baiklah aku masih ada keperluan lain. Cukup itu saja. Maaf mengganggu waktu kalian berdua. Aku permisi dulu ya. Assalamu’allaikum.” Kata Vanya, kemudian bergegas  pulang.

*****
Aku kembali ke dapur menyiapkan makan siang yang tertunda tadi. Pikiranku masih saja absurd. Mas Zen sudah duduk di meja makan. Aku buru-buru menyiapkan piring untuknya. Perasaanku jadi setengah emosi hingga saat aku menyiapkan piring  untuk mas Zen jadi agak gaduh. “Bunda kenapa jadi kasar nyiapin makanannya. Pelan-pelan nanti pada pecah piringnya.” Kata Mas Zen.
Aku masih diam dan tidak menjawab. Aku kembali ke dapur menyiapkan minuman untuk Mas Zen. “Bunda marah sama Abi?” Tanya Mas Zen. “Bunda nggak marah. Abi makan saja.” Kataku berlalu membiarkan Mas Zen makan siang sendiri. Entahlah rasanya aku jadi tidak selera makan. Ya Allah, kenapa mataku jadi berkaca-kaca. “Bunda mau ke mana, nggak makan?” Tanya Mas Zen lagi. Aku tidak menjawab dan langsung masuk ke kamar.
Ya Allah, aku menangis hanya karena sesuatu yang sudah lalu. Maaf Abi, Bunda mengulanginya lagi. Sebenarnya apakah salah perasaan cemburu ada? Aku tahu dalam mahligai rumah tangga memang harus ada kepercayaan. Aku tahu Abi setia padaku. Tapi aku hanya takut dan tidak suka saja ada seorang wanita di masa lalumu yang kembali menghubungimu.
Mas Zen masuk ke kamar membawakanku sepiring nasi dan menyuruhku makan. Aku buru-buru mengusap airmataku. “Bunda makan dulu. Kasihan dedeknya. Abi suapin ya?” kata Mas Zen duduk di sampingku. Aku menatapnya dan berkata agak ketus  “Bunda belum lapar Abi.” Mas Zen masih sabar dan terus membujukku untuk makan. Tapi kasihan dedeknya, Bunda harus makan biar dedeknya sehat.” Kata Mas Zen lembut.
Aku malah menangis. Tak bisa menahan air mataku. Mas Zen meletakkan piring di atas meja dan menggenggam tanganku. Dia juga mengusap air mataku. Aku tahu Mas Zen sudah merasa jika aku cemburu pada Vanya. Maklum saja itu adalah sifat burukku yang selalu aku ulang-ulang.
“Bunda cemburu?” Tanya Mas Zen.
“Maaf Abi. Bunda nggak bisa nahan perasaan itu. Bunda tahu Abi pasti nggak suka kalau Bunda cemburu. Abi boleh marah sama Bunda.” Kataku sambil terisak.
“Bunda, Abi kan sudah bilang hanya Bunda yang ada di hati Abi. Bunda nggak usah mikir yang macam-macam. Ada hal lain yang harus kita pikirkan daripada memikirkan yang sudah lalu.” Kata Mas Zen.
Aku masih diam malah tambah terisak.
“Lalu kenapa Abi sama sekali tidak pernah cemburu? Kenapa hanya Bunda yang punya rasa cemburu? Apa salah jika seorang wanita cemburu?”
“Untuk apa Abi cemburu kalau Abi sendiri percaya pada Bunda.” Kata Mas Zen berlalu meninggalkanku sendiri.

*****
Sore ini Mas Zen sibuk menjadi EO di acara Vanya. Rasanya aku ingin ikut menyusul. Ya Allah pikiran-pikiran absurd itu kenapa harus kembali muncul. Aku memilih untuk meneruskan pekerjaan menulisku. Berdiam di kamar dan duduk di meja kerjaku. Menunggu Mas Zen pulang. Suara dering handphone berbunyi. Aku melihat ke sudut meja. Ternyata itu handphone Mas Zen yang ketinggalan. Aku mengangkat teleponnya.
“Halo?”
“Halo.”
“Siapa?” tanyaku
“Owh, ini Arum ya. Maaf aku kira Mas Zen tadi bawa handphonenya.”
“Vanya? Handphonenya Mas Zen ketinggalan.”
“Ya sudah, tadinya aku mau mengajaknya beristirahat dan sekalian makan bersama. Ya sudah Rum. Assalamu’allaikum.” Katanya langsung menutup telepon.
“Wa’allaikumsalam.”
Apa? Makan bersama. Apa hanya berdua saja? Perasaanku makin kalut. Aku kembali ke meja kerjaku. Menulis meneruskan proyek novel baruku. Kursor masih berkedip-kedip. Aku berpikir sejenak kemudian mulai menulis.

Novel : Suara, Arum--
16 Juni 2014

*****
Di bawah kelabu yang mendung aku mengurai kata. Masihkah ada rasa sayang yang selalu kau tuang dalam dahaga rinduku. Menjadikannya saksi bisu dalam kisah yang kita jalin. Aku tak mengerti mengapa hanya aku sebagai wanita yang merasakan kacaunya rasa semu yang kusebut cemburu. Sementara engkau lebih bersikap indah dengan logikamu.
Pernah terpikir, apakah tidak kau merasa aneh? Kadang aku bertanya, apakah jika kau tak pernah merasa cemburu itu karena kau tak sayang? Sungguh maafkan aku. Mungkin kau juga punya alasan lain. Dan sama sepertimu, aku pun juga punya alasan mengapa aku cemburu. Itu semua karena aku takut kehilanganmu dan bukan berusaha untuk melunturkan rasa percayaku padamu.

Mendadak perutku terasa sakit. Aku menahan dan merintih. Ya Allah, hamba hanya sendiri di rumah. Lindungi hamba Ya Allah. Aku terus memegang perutku. Berusaha menarik tubuhku untuk melangkah dan merebahkan badanku di atas kasur yang ada di depan meja kerjaku. Aku meraih handphoneku hendak menelpon Mas Zen. Tapi aku segera sadar, Mas Zen tidak membawa handphonenya. Aku mencari nomor Mas Adi teman Mas Zen yang juga ikut menjadi EO di acara Vanya.
Aku menelponnya dan memintanya untuk memberi tahu Mas Zen. Tapi katanya Mas Zen sedang pergi membeli peralatan yang kurang bersama Vanya untuk menambah dekorasi. Aku menangis menahan sakit. Abi, kamu di mana? Cepatlah pulang, aaarrgg sakit Ya Allah. Astagfirullah,  kuatkan aku Ya Allah.
Aku tak tahu apa yang terjadi setelah itu. Kepalaku pusing dan pendanganku mulai remang-remang. Tubuhku lemas dan perutku makin sakit. Mataku tiba-tiba terpejam dan semua gelap.

*****
Lima belas menit kemudian aku tersadar dan sudah ada Mas Zen dan juga Dokter Lina di sampingku. Kepalaku masih pusing tapi perutku sudah tidak sakit lagi.
“Bagaimana keadaaan istri saya Dok?” Tanya Mas Zen.
“Sudah membaik Pak. Oh iya sebisa mungkin jangan biarkan Bu Arum berpikir terlalu berat. Itu dapat menjadikan pikirannya stress sehingga memicu kontraksi pada kandungannya.” Kata Dokter Lina.
“Baik Bu. Terima Kasih.”
“Iya saya permisi dulu ya Pak. Bu Arum Istirahat yang cukup.”
Aku hanya menganggukkan kepala. Mas Zen dengan sigap mengambilkan aku air putih dan membantuku untuk minum.  Aku masih agak lemas.
“Bunda nggak apa-apa? Masih sakit nggak?” kata Mas Zen.
Aku masih diam tidak menjawab. Entahlah rasanya agak kecewa. Aku mengusap wajah lelahku. Kembali mengenakan jilbabku dan mengganjal punggungku dengan bantal.
“Biar Abi buka kordennya ya, biar udaranya masuk dan Bunda nggak sesak.” Kata Mas Zen.
“Nggak usah Abi.” Jawabku pendek.
“Maafin Abi tadi lupa bawa handphone. Abi teledor.” Kata Mas Zen menyesal.
Mas Zen mengusap perutku. Wajahnya terlihat begitu khawatir dengan keadaanku dan juga kandunganku.
“Abi tadi pergi sama Vanya?” aku mulai menanyakan hal itu.
“Iya, soalnya tadi ada peralatan yang kurang. Tapi kami tidak berdua Bunda. Kami pergi bertiga dengan Papa Vanya.”
“Reuni kenangan lama dong.” Jawabku ketus.
“Bundaaaa, sudahlah. Abi dan Vanya tidak ada hubungan apa-apa. Bunda jangan memulai perdebatan lagi.” Kata Mas Zen sedikit lelah menanggapi sikapku.
“Iya, Bunda emang nggak pernah bisa mengerti. Hanya bisa cemburu pada Abi. Beda dengan Abi yang tidak pernah cemburu. Ya, mau cemburu dengan siapa tak akan ada yang berani macam-macam sama Bunda.” Kataku mulai emosi.
“Bunda!! Jangan buat kesetiaan Abi sia-sia. Abi sudah bilang berkali-kali. Percayalah sama Abi. Kita ini sudah hidup bersama.” Kata Mas Zen dengan nada sedikit meninggi.
Mataku mulai berkaca-kaca hendak menangis. Aku menatap wajah kecewa Mas Zen. Tapi dia masih menatapku penuh kesabaran.
“Abi, Bunda bukan tidak percaya sama Abi. Bunda hanya takut ada yang mencoba mengganggu Abi dan akhirnya…………..”  kataku terputus.
“Jangan berpikir hal-hal yang belum tentu terjadi. Bunda, Abi sayang sama Bunda. Sebaiknya Bunda istirahat saja.” Kata Mas Zen berlalu meninggalkanku sendiri.
Aku benar-benar menangis. Kembali berbaring. Apakah aku salah jika cemburu? Ya Allah bukan maksud hamba membuat suami hamba kesal. Tapi perasaan itu bukankah alami perasaan seorang wanita? Maafkan Bunda, Abi.

*****
Pukul 02.10 aku terbagun dari tidurku. Mas Zen tidak ada di sampingku. Rupanya dia sedang salat Tahajud. Aku mencoba menyandarkan tubuhku yang terasa berat.

“Ya Allah Ya Rab. Berikanlah kami senantiasa ketenangan hati. Jagalah selalu istri hamba dan anak yang ada di dalam kandungannya. Ya Allah yang Maha Sempurna, berikanlah hamba kesabaran dalam membimbing istri hamba. Jadikanlah hamba imam yang bisa mengantar keluarga hamba menuju surgaMu. Jadikanlah pula istri hamba menjadi wanita yang sholehah dan juga ibu yang baik bagi anak-anak kami.
Ya Allah Ya Rab, manakala istri hamba bertanya mengapa hamba tidak pernah merasa cemburu padanya. Sungguh bukan karena hamba tidak sayang, melainkan karena hamba begitu sayang dan percaya akan kesetiaannya. Lindungilah keluarga hamba Ya Allah. Jauhkan kami dari sesuatu yang dapat merusak keutuhan keluarga kami. Jadikanlah kami senantiasa menjadi keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah. Amiiinn.”

Hatiku begitu sesak mendengar doanya. Ya Allah, maafkan hamba. Abi maafkan Bunda, tak seharusnya Bunda cemburu.
“Abi, maafin Bunda.” Kataku lirih.
Mas Zen menoleh padaku. Kemudian berdiri dan duduk di sampingku. Dia membelai wajahku lembut dengan penuh kasih sayang.
“Bunda. Nggak usah minta maaf. Bunda nggak salah.” Kata Mas Zen.
“Tapi Bunda mengulangi kesalahan Bunda lagi. Padahal Abi sudah berkali-kali menasihati Bunda. Maaf Abi.” Kataku menangis sambil memeluknya.
“Bunda, Abi sungguh sayang Bunda. Hanya bunda yang ada di hati Abi. Yakinlah.” Kata Mas Zen mencium keningku.
“Iya,Bunda juga sayang Abi.” Kataku kemudian mencium tangannya.
“Jadi Bunda ngerti kan? Abi tidak pernah cemburu bukan karena Abi tak sayang. Tapi karena Abi percaya sama istri Abi.” Kata Mas Zen tersenyum manis.
Aku benar-benar malu rasanya. Harusnya aku tidak seperti itu. Vanya hanyalah masa lalu suamiku. Dan aku adalah masa depannya. Berkali-kali Mas Zen berkata seperti itu dan aku tidak boleh membuatnya sedih lagi karena rasa cemburuku yang menjengkelkan. Maafkan aku Mas.
Mas Zen tersenyum sangat manis dan mengusap perutku. “Dedek, jangan nakal ya di dalam. Kasihan Bunda kalau kamu nakal. Abi sayang sama Dedek dan Bunda.” Dia juga mendekatkan kepalanya ke perutku kemudian melantunkan Shalawat. Rasanya ada air yang mau menetes dari sudut mataku. Aku begitu terharu. Aku mencintaimu Mas. Mas Zen kembali menatap mataku dengan penuh kasih sayang.

*****

By : Icha Mamusu
--17 Juni 2014