Malam ini aku ada janji
dengan Ira. Nonton film berdua. Pukul 19.00 tepat aku sudah sampai rumahnya. Mungkin
juga gadis itu sudah berdandan cantik untuk menyambut kedatanganku. Dia teman
kuliahku. Wanita yang sederhana, pintar dan punya pemikiran idealis yang
tinggi. Sama sepertiku.
Aku sangat
mengaguminya, mungkin juga karena kita satu tujuan. Semangat juangnya selalu
menjadi hal yang aku kagumi. Dia juga selalu setia dan selalu ada untukku.
Bahkan selalu mendukung apa yang aku lakukan untuk mewujudkan mimpi-mimpi idealisku.
“Tok..tok…tok..!! aku mengetuk pintu.
Tantenya Ira yang membukakan pintu dan menyambutku dengan ramah.
“Eh,
Soe. Cari Ira? Sebentar ya Tante panggilkan.” Katanya ramah.
Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Selang setelah itu Ira keluar. Cantik
sekali. Dia mengenakan gaun berwarna merah muda dan terlihat begitu anggun. Rambutnya
yang hitam dan lurus sebahu membuatnya semakin terlihat manis. Kami langsung
bergegas pamit pada Tantenya Ira. Kami naik becak ke kampus. Yah, nonton film
kali ini memang di kampus. Anak-anak sengaja menggelar acara itu untuk
refreshing. Tadinya mau muncak ke gunung tapi dipikir-pikir belum ada waktu
yang tepat.
“Kau cantik Ra.” Kataku
sambil memandangnya.
“Terima kasih Soe, kau
juga tampan.” Katanya tersipu malu.
Sepanjang jalan hanya
dua kalimat itu yang terucap. Kami malah saling diam. Mungkin juga Ira merasa
malu kencan berdua denganku. Atau barang kali merasa canggung atas ucapanku
waktu itu. Seminggu lalu aku bertanya padanya “Apa yang kamu rasakan saat dekat denganku Ra?” tapi dia tidak
menjawab hanya menatapku malu.
Akhirnya kami sampai di
kampus. Anak-anak sudah ramai duduk di pelataran halaman Fakultas Sastra. Layar
dan lampu proyektor juga sudah terpasang. Film pun dimulai. Semua menyimak
dengan serius. Kali ini drama percintaan yang diputar. Adegan romantis dan
menyedihkan. Sesekali aku mencuri pandang menatap Ira. Gadis itu selalu saja
manis. Senyumnya juga selalu menenangkan.
Pukul 20.47 film usai
diputar. Kami bergegas pulang. Sudah malam juga, tak baik seorang gadis jalan
dengan lelaki malam-malam.
“Terima kasih untuk malam
ini Soe.” Kata Ira dengan senyum manisnya.
“Tak usah berterima
kasih. Aku yang seharusnya berterima kasih kau sudah mau aku ajak kencan
walaupun hanya nonton film di kampus.”
“Emm. Oh iya Soe,
bagaimana dengan tulisan-tulisanmu?”
“Cukup baik. Aku rasa Pemerintahan
Soekarno perlu kritik lebih tajam lagi.”
“Kau hebat Soe.” Katanya
memujiku.
Ira selalu memuji semua
karya dan tulisanku. Katanya
tulisanku selalu tajam dalam mengkritik pemerintah. Puisiku juga selalu indah
menggambarkan realita zaman ini yang penuh dengan permainan politik. Dia juga
bilang kalau aku bisa menggambarkan segala bentuk kehidupan dan dapat menggugah
hati setiap pembaca. Idealisku tinggi. Saat dia berkata begitu aku hanya
tersenyum dan malah terus mengaguminya yang begitu menyukai mimpi-mimpi
idealisku.
Sampai di rumah Ira, aku
segera berpamitan. Mengucapkan selamat malam dan semoga tidur nanti bermimpi
indah. Sedikit kata-kata manis untuk gadis yang aku cintai. Ehm, mungkin lebih
tepatnya aku kagumi. Aku tidak tahu apa itu cinta. Aku masih mengartikan bahwa cinta yang berujung pada perkawinan
itu tidaklah suci. Bagiku tidak ada cinta sejati karena yang ada hanyalah
nafsu. Dan aku hanya mengagumi Ira.
-Œ-
Pagi
ini aku harus mengurus rapat mahasiswa untuk aksi demo minggu depan. Seperti
biasa mengkritik tajam pemerintah. Penguasa tak boleh menang dengan elite
politiknya. Dan kami para mahasiswa juga tak boleh jadi pecundang. Aku berjalan
menuju ruang rapat mahasiswa. Baru saja menaiki tangga aku bertemu dengan
Maria.
“Gie,
kau mau ke mana?” tanyanya dengan senyum ceria.
“Rapat.
Kau sendiri?”
“Sebenarnya
mau bicara berdua denganmu. Tapi ya sudah, nanti saja selesai kau rapat.” Kata
Maria.
“Baiklah
nanti aku akan menemuimu.”
Maria
berlalu dan aku segara menaiki tangga lagi. Beberapa teman juga sudah terlihat
memasuki ruang rapat. Aku pun ikut bergegas masuk ke ruangan dan mempersiapkan
segala proposal rencana. Duduk di sebelah Ira yang juga ikut rapat ini. Masih
menunggu teman-teman lainnya yang belum datang.
Bertemu dengan Maria tadi
aku jadi teringat saat kemarin tiba-tiba aku melihat Maria menemui Ira. Aku
sengaja mengikuti mereka berdua. Penasaran kenapa tiba-tiba Maria terlihat
serius ingin menemui Ira dan membicarakan sesuatu yang sepertinya menjadi
rahasia wanita.
Mereka berdua duduk di
taman. Aku mengikuti mereka dan mencoba mendengarkan pembicaraan mereka. Jelas
sekali terdengar, bahkan aku bisa menyimaknya.
“Ra, menurutmu
bagaimana dengan Gie?” tanya Maria pada Ira.
“Soe? untuk apa kau
menanyakannya?” tanya Ira, heran.
“Aku suka dengan Gie,
wajar kan? dia tampan, pintar dan terkenal.”
“Iya. Kau serius suka
dengan Soe?”
“Tentu. Kau tidak ada
hubungan apa-apa dengan Gie kan?”
“Tidak. Kami berteman.”
“Baguslah, karena aku
tidak mau bersaing.”
Cukup lama mereka
berbincang. Dan aku masih tidak mengerti kenapa Maria menanyakan tentang aku
pada Ira. Aku rasa Ira juga pasti sakit dengan pertanyaan Maria. Aku rasa Ira
juga punya perasaan padaku. Tapi Maria juga sama, dia menyukaiku.
Lima menit berlalu,
teman-teman sudah lengkap berkumpul di ruangan rapat. Aku memulai rapat dan
memberikan penjelasan. Membagikan proposal ke masing-masing teman yang
mengikuti rapat.
-Œ-
Akhirnya
rapat selesai. Minggu depan rencana demo akan terlaksana. Aku melihat jam di
tanganku ternyata sudah pukul 12.00 waktunya makan siang. Aku bergegas keluar
ruangan bersama Ira.
“Hai
Gie?” sapa Maria yang sudah berdiri di depan pintu
ruangan rapat. Wajahnya terlihat ceria sekali. Maria, dia gadis yang baik,
cantik dan selalu ceria. Katanya, Papanya pengagum beratku. Dan entahlah, aku
tidak tertarik. Tapi aku sedikit tertarik juga dengan Maria dan segala
perhatiannya padaku.
“Gie, kau sudah makan?
Ayo kita makan bersama.” Kata Maria manja, sambil menggandeng lenganku.
“Belum. Kau mau ikut
dengan kami Ra?” kataku sambil menatap wajah Ira.
“Tidak Gie. Kalian
saja, aku nanti saja.”
Maria terus menarik
tanganku dan menyuruhku cepat. Entah kenapa aku jadi merasa bersalah saat
melihat wajah murung Ira yang melihat Maria begitu dekat denganku. Sepertinya
gadis itu cemburu. Matanya bahkan mulai berkaca-kaca dan langsung bergegas
pergi. Aku rasa Ira cemburu karena
lelaki terdekatnya bersama gadis lain.
Aku dan Maria makan siang
bersama. Lagi-lagi dia bercerita cerewet sekali tentang Papanya yang sangat
mengagumiku. Dia juga menunjukkan koran hari ini. Maria bilang Papanya
berkomentar baik tentang tulisanku di koran. Gadis ini selalu saja menarik dan cantik.
Dia puteri seorang yang kaya raya. Wajar jika dia agak manja dan hidupnya
glamour.
“Berhentilah memujiku
Maria.” Kataku padanya
“Kenapa Gie? kau hebat
dan aku suka padamu.” Katanya manja.
“Bagaimana jika
sekali-kali kau ikut mendaki gunung seperti Ira.”
“Aaah Gie, tidak bisa. Papaku
tidak akan mengijinkanya.”
“Baiklah.” Kataku
sambil menghela napas.
“Kenapa setiap kita
duduk berdua selalu saja ada pembicaraan tentang naik gunung. Kenapa tidak
membicarakan tentang kau atau kita.” Kata Maria mulai sebal.
Aku hanya diam. Aku
tidak tahu kenapa Maria tidak seperti Ira yang bisa satu pemikiran dan bahkan
satu hobi denganku. Apa salahnya dengan naik gunung. Bagiku perjalanan
pendakian adalah perjalanan untuk mencari hakikat kehidupan manusia. Dengan itu
kita bisa mencintai alam Indonesia yang sebenarnya. Daripada mendengar
janji-janji politik pemerintah yang seperti sampah.
“Gie, kau mau kencan
denganku nanti malam?”
“Baiklah. Papamu tidak
marah?”
“Tidak. Untuk apa Papa
marah. Ini urusan anak muda.” Kata Maria begitu semangat.
-Œ-
Malam
ini aku jalan kaki ke rumah Maria. Aku tahu ini bukan ide yang baik, datang
menjemput anak gadis dari keluarga kaya dengan jalan kaki. Tapi aku tidak
peduli. Dan Maria justru malah senang. Malam ini jalanan cukup lengang. Hanya
ada orang-orang malang di pinggir-pinggir jalan. Mereka membaringkan tubuhnya yang
lelah dengan keadaaan zaman ini. Mencoba bermimpi hidup di Negara yang indah. Kaum-kaum
usang banyak yang tiduran di luar istana presiden. Aku jadi terpikir rencana
demo untuk minggu depan. Semoga berjalan dengan lancar.
Sampai
di rumah Maria. Senyumnya langsung terlukis ceria begitu melihatku. Berbeda
dengan Ira. Maria justru langsung memujiku sebelum aku memujinya. “Kau tampan sekali Gie malam ini.”
Katanya sambil membelai wajahku. Aku hanya tersenyum. Bergegas pamit dan segera
mengajaknya pergi. Papa Maria sepertinya tidak terlalu suka dengan aku,
walaupun dia mengagumi tulisanku. Jelas kalau begitu. Aku hanyalah seorang
aktivis. Semua karya tulisanku banyak mendapat hujatan-hujatan dari orang-orang
yang merasa tersindir. Parahnya aku juga selalu mendapat teror dari apa yang
aku lakukan. Tapi sekali lagi aku hanya mencari kebenaran dan keadilan.
Malam
ini kami hanya jalan-jalan menikmati suasana malam di Jakarta. Maria juga
terlihat bahagia bahkan terus menggandeng lenganku. Makin cantik dengan gaun
warna hitamnya. Terlihat seperti gadis-gadis borjuis. Dari Ira dan Maria memang
banyak perbedaan. Ira lebih kalem, sederhana dan selalu menyembunyikan
perasaannya. Sedangkan Maria lebih agresif dalam menunjukkan perasaannya.
“Papamu
sepertinya tidak suka denganku.” Kataku memulai pembicaraan.
“Ah
itu perasaanmu saja Gie. Papaku menyukai semua karya-karyamu.”
“Iya
hanya karya-karyaku. Maria, tidak ada orangtua yang mau membiarkan anak
gadisnya menjalin cinta apalagi menikah dengan seorang aktivis sepertiku.
Mereka akan berpikir beberapa kali. Itu semua mereka lakukan demi keselamatanmu
juga.” Kataku panjang lebar dan membuat senyum Maria menghilang.
“Kau
tidak mencintaiku Gie?” Tanya Maria sambil menatap mataku.
“Cinta?
Aku tidak tahu. Tapi aku suka padamu.”
Langkah Maria terhenti
saat aku berkata seperti itu. Aku tahu dia tidak suka dengan perkataanku. Aku
tahu apa yang ada dalam pikirannya. Dia ingin menjalin kasih denganku secara
lebih. Tapi aku tidak bisa. Mimpi-mimpi idealisku jauh lebih besar.
“Gie, kau suka dengan
Ira?” tanya Maria membuatku kaget.
“Ira. Aku mengagumi Ira
dan iya aku suka dengannya.” Kataku membuat mata Maria berkaca-kaca.
“Lalu siapa yang kau
cintai Gie?” tanyanya dengan wajah yang mulai menyedihkan.
Aku masih diam dan
tidak menjawab. Pikirku apa Maria masih belum mengerti. Ada hal lain yang aku
pikirkan selain cinta. Baiklah aku memang menyukai Ira dan juga menyukai Maria.
Aku akui aku mungkin egois dan terlihat seperti mempermainkan kedua gadis itu. “Gie, aku mau pulang.” Tiba-tiba saja
Maria berkata seperti itu. Dia juga terlihat mengusap airmata yang tak sengaja
menetes dari sudut matanya. Aku mengantarkannya pulang. Maria juga berjalan
dengan cepat. Tidak lagi menggandeng lenganku.
Usai mengantarkan Maria
aku bergegas pulang. Mungkin ini terakhir aku bertemu Maria. Papanya juga
terlihat marah dan memintaku untuk tidak berhubungan lagi dengan Maria. Hari
ini aku sudah mengacaukan hati dua gadis itu. Maafkan aku gadis-gadisku. Aku
menyukai kalian tapi aku akui, kini aku juga terlibat dalam hal yang kalian
sebut cinta. Kalian gadis yang baik. Ira, kau selalu bisa mengerti aku dan
semua mimpi-mimpi idealisku. Aku mengagumimu tapi kau selalu saja bersembunyi
dengan perasaanmu terhadapku. Dan Maria, kau gadis yang cantik. Selalu ceria
dan perhatian. Tapi kau tidak pernah mengerti mimpi-mimpiku. Sungguh maafkan
aku.
-Œ-
Sebulan
berlalu. Hari ini 16 Desember 1969. Besok aku tambah usia. Dan tak satupun di
antara kedua gadis itu ada yang menemaniku. Senja ini di atas puncak Semeru,
matahari terlihat cantik sekali. Sunset. Udara juga bertambah dingin dan
membuatku serasa beku. Jujur aku merindukan kalian. Dan di saat aku mulai
mengejar apa itu cinta, semua menolakku. Ira juga tak lagi bisa aku temui.
Tantenya melarangku untuk menemuinya.
Yah,
ini sebuah konsekuensi dari sikap idealisku. Tak heran akan ada banyak orang yang
memusuhiku. Tapi bagiku lebih baik diasingkan dari pada menyerah pada
kemunafikan. Dan sekarang tidak akan ada juga gadis yang
mau berhubungan denganku, but life must go on. Mungkin karena mereka
tidak berani atau bisa saja jijik berhubungan dengan lelaki yang tidak jelas
dan selalu mengkritisi siapapun.
Ira,
aku juga rindu bersamamu. Mendaki gunung bersama dan mamandangi hijaunya alam
dan bukit-bukit. Melihatmu tertawa ceria saat memandangi bunga-bunga edelweis. Rindu
juga mendengar kau memanggilku dengan nama Soe. Semoga kau selalu mengagumkan
dengan semangat juangmu yang juga selalu idealis. Maria, aku juga merindukanmu.
Melihatmu tertawa ceria dengan tingkah manjamu saat merayu dan merajuk. Semoga
kau juga selalu bahagia dengan hidupmu.
“Loe
gak turun Gie? Cuaca sudah semakin buruk. Sebentar lagi hujan turun.” Kata Doni
temen Mapalaku.
“Ntar
gue nyusul. Oh iya ini gue nitip, tolong berikan batu dan daun cermara ini
buat temen-temen.” Kataku sambil
memberikan batu dan daun cemara pada Doni.
“Ah
loe kurang kerjaan Gie. Hahahah.” Kata Doni mengejekku.
“Tak apa, mereka pasti juga senang. Itu
batu berasal dari tanah tertinggi di pulau Jawa. Jangan lupa hadiahkan pada gadis-gadis
di Fakultas Sastra.”
“Okey. Gue turun duluan Gie. Loe
hati-hati ya.” Kata Doni bergegas turun dari puncak.
Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Hari ini rasanya
aku hanya ingin diam dan duduk termenung di sini. Mengenang kebersamaanku
dengan Ira dan Maria. Menulis puisi untuk kedua gadis manis yang aku sukai.
Kata-kata terakhir untuk mereka. Ira, Maria, terima kasih untuk segala kisah
dan perasaan yang telah kalian tumbuhkan di hatiku. Aku hanyalah orang malam
yang membicarakan terang. Aku hanyalah orang malam yang menentang kemenangan
oleh pedang.
Maafkan aku.
Ada orang yang menghabiskan waktunya
ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Mirasa
Tapi aku ingin menghabiskan waktuku di sisimu... sayangku...
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Mirasa
Tapi aku ingin menghabiskan waktuku di sisimu... sayangku...
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang
mati kena bom di danau
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biapra
Tapi aku ingin mati di sisimu... Manisku...
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya,
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biapra
Tapi aku ingin mati di sisimu... Manisku...
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya,
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu
Mari sini sayangku...
Kalian yang pernah mesra,
Yang simpati dan pernah baik padaku,
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung...
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita tak kan pernah kehilangan apa-apa
Kalian yang pernah mesra,
Yang simpati dan pernah baik padaku,
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung...
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita tak kan pernah kehilangan apa-apa
Nasib terbaik adalah tak pernah
dilahirkan
Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda
Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda
Mahluk kecil...
Kembalilah dari tiada ke tiada...
Berbahagialah dalam ketiadaanmu...
Kembalilah dari tiada ke tiada...
Berbahagialah dalam ketiadaanmu...
--Soe Hok Gie
Udara mulai pengap bau belerang. Dadaku juga sesak sulit
menghirup oksigen. Hujan deras turun. Dingin makin mencekik. Letupan kawah
Jonggring Saloko juga mulai terdengar jelas. Aku masih duduk diam usai menulis
puisiku dan tenang dalam heningnya alam. Perlahan bebatuan mulai berguguran dan
kabut tebal menyelimuti puncak Semeru. Asap beracun dari kawah mulai turun. Dan
semua gelap.
by : Icha Mamusu









