Tuesday, 29 September 2015

Apa Aku Terlambat?


Malam di tepian sinar bulan. Aku berdiri di batas dermaga. Buih ombak makin putih, seperti busa yang keluar dari mulut orang yang keracunan.

Angin laut berhembus. Dingin menelisik sela-sela anak rambut. Kenangan itu akan segera kembali, tak lagi tergerus ombak dan terkikis layaknya karang-karang di pinggir sana.

"Apa yang paling indah di hidupmu, Wan?"

"Tidak ada." Jawabku pendek.

Senyumnya tulus mengitari wajahku. Binar matanya sama seperti bintang di langit sana. Ia terdiam. Tangannya sibuk menyibak rambut panjangnya. Teduh, ia menatapku.

"Maukah kau berjanji padaku, Wan?"

"Janji apa?"

"Berjanjilah untuk tidak lagi menghubungiku." Jawabnya dengan wajah yang mulai sendu.

"Kenapa?" aku sedikit kaget.

Ia terdiam, hanya menunjukkan ekspresi wajah muram. Matanya mulai berkaca-kaca, persis seperti kilau air yang memantulkan cahaya lampu.

"Aku lelah berputar-putarr di duniamu, lantas tak kunjung mendapatkan cintamu. Apa kau sadar, Wan? Kau menyakitiku dengan diammu. Kenapa tak kau katakan saja, bahwa memang tak akan pernah ada ruang di hatimu untukku?" katanya dengan terisak.

"Maaf, maafkan aku." Kataku tak berani menatap tangisnya.

"Hanya itu yang mampu kau ucapkan, Wan. Sedangkan aku . . ."

Sungguh, malam ini aku menyakitinya lagi. Airmata itu tumpah membasahi pipinya dan membekukan hatiku.

"Sebenarnya malam ini aku ingin mengatakan padamu. Aku ingin menghadirkan ruang itu untukmu, di hatiku. Apa aku terlambat?"

"Apa kau serius?"

(bersambung . . . . .)


Categories:

11 comments: