Saturday, 9 May 2015

KEADILAN YANG TERLUPAKAN

Maria Katarina Sumarsih, ia adalah seorang ibu yang tak pernah berhenti berjuang demi sebuah keadilan. Keadilan? Di negeri ini keadilan hanyalah sebuah mimpi yang bagi sebagian kaum terasa sangat mahal dan sulit digapai. Bagaimana tidak, selama bertahun-tahun, Maria Katarina Sumarsih mencoba memperjuangkan nasib dan keadilan bagi anaknya yang tak pernah ada ujungnya.

November 1998 di saat Negara tengah sibuk mempersiapkan pemilu dan agenda-agenda baru pemerintahan. Mahasiswa kembali beraksi, mereka tidak mengakui pemerintahan B.J Habibie dan para anggota MPR/DPR Orde Baru. Mahasiswa pun mendesak untuk menyingkirkan dan membersihkan pemerintahan dari orang-orang Orde Baru. Peristiwa itulah yang mengawali rasa kehilangan yang teramat menyakitkan. Anaknya yang bernama Benardinus Realino Norma Irawan (Wawan) menjadi korban dalam peristiwa yang kini hanya tercatat dalam sejarah yang coba dilupakan.

Peristiwa Semanggi 1, adalah saksi kebekuan yang merenggut nyawa Wawan. Hari itu di tengah kekalutan kerusuhan, Wawan, mahasiswa Mahasiswa universitas Atma Jaya tertembak saat hendak menolong rekannya yang terluka di pelataran parkir universitas Atma Jaya. Sebuah peluru menembus dadanya dan menghilangkan nyawanya. Peristiwa itu pun tak pernah diusut, hingga tahun dan pimpinan Negara terus berganti.

Kini bersama dengan Tim Relawan untuk Kemanusiaan, Maria Katarina Sumarsih terus bergerak dan berjuang demi menegakkan HAM dan keadilan atas kematian anaknya. Saat rapat pleno DPR RI yang mengeluarkan rekomendasi bahwa kasus Semanggi I, Semanggi II, dan Tragedi Trisakti bukanlah pelanggaran HAM yang berat, Maria Katarina Sumarsih pun dengan berani melempar telur busuk kepada pimpinan rapat pleno DPR RI. Advokasi, demonstrasi, dan orasi ia lakukan bersama keluarga korban tragedi lainnya. Ia bahkan mendata nama-nama korban pelanggaran HAM di Jakarta.

Maria Katarina Sumarsih berpesan kepada seluruh keluarga korban agar jangan pernah berhenti berjuang, dan ia pun akan terus melakukan garakan-gerakan perjuangan sampai pembunuh anaknya terungkap. Semoga para pejuang HAM dan keadilan di negeri ini segera mendapatkan jawaban atas apa yang menjadi hak mereka. Nyawa yang hilang memang tak pernah bisa kembali, namun keadilan atas apa yang seharusnya tegak haruslah terjadi. Bukan malah dilupakan atau dibungkam. Bukan hanya satu korban yang hilang nyawanya, bahkan banyak pula keluarga korban yang menanti kejelasan. Keadilan, harus ditegakkan!

*****

Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
            
Categories:

0 comments:

Post a Comment