Maria Katarina Sumarsih, ia
adalah seorang ibu yang tak pernah berhenti berjuang demi sebuah keadilan.
Keadilan? Di negeri ini keadilan hanyalah sebuah mimpi yang bagi sebagian kaum
terasa sangat mahal dan sulit digapai. Bagaimana tidak, selama bertahun-tahun,
Maria Katarina Sumarsih mencoba memperjuangkan nasib dan keadilan bagi anaknya
yang tak pernah ada ujungnya.
November 1998 di saat Negara tengah
sibuk mempersiapkan pemilu dan agenda-agenda baru pemerintahan. Mahasiswa kembali
beraksi, mereka tidak mengakui pemerintahan B.J Habibie dan para anggota
MPR/DPR Orde Baru. Mahasiswa pun mendesak untuk menyingkirkan dan membersihkan
pemerintahan dari orang-orang Orde Baru. Peristiwa itulah yang mengawali rasa
kehilangan yang teramat menyakitkan. Anaknya yang bernama Benardinus Realino
Norma Irawan (Wawan) menjadi korban dalam peristiwa yang kini hanya tercatat
dalam sejarah yang coba dilupakan.
Peristiwa Semanggi 1, adalah
saksi kebekuan yang merenggut nyawa Wawan. Hari itu di tengah kekalutan
kerusuhan, Wawan, mahasiswa Mahasiswa universitas Atma Jaya tertembak saat
hendak menolong rekannya yang terluka di pelataran parkir universitas Atma
Jaya. Sebuah peluru menembus dadanya dan menghilangkan nyawanya. Peristiwa itu
pun tak pernah diusut, hingga tahun dan pimpinan Negara terus berganti.
Kini bersama dengan Tim Relawan
untuk Kemanusiaan, Maria Katarina Sumarsih terus bergerak dan berjuang demi
menegakkan HAM dan keadilan atas kematian anaknya. Saat rapat pleno DPR RI yang
mengeluarkan rekomendasi bahwa kasus Semanggi I, Semanggi II, dan Tragedi
Trisakti bukanlah pelanggaran HAM yang berat, Maria Katarina Sumarsih pun
dengan berani melempar telur busuk kepada pimpinan rapat pleno DPR RI. Advokasi,
demonstrasi, dan orasi ia lakukan bersama keluarga korban tragedi lainnya. Ia bahkan
mendata nama-nama korban pelanggaran HAM di Jakarta.
Maria Katarina Sumarsih berpesan
kepada seluruh keluarga korban agar jangan pernah berhenti berjuang, dan ia pun
akan terus melakukan garakan-gerakan perjuangan sampai pembunuh anaknya
terungkap. Semoga para pejuang HAM dan keadilan di negeri ini segera
mendapatkan jawaban atas apa yang menjadi hak mereka. Nyawa yang hilang memang
tak pernah bisa kembali, namun keadilan atas apa yang seharusnya tegak haruslah
terjadi. Bukan malah dilupakan atau dibungkam. Bukan hanya satu korban yang
hilang nyawanya, bahkan banyak pula keluarga korban yang menanti kejelasan. Keadilan,
harus ditegakkan!
*****
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
*****
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546








0 comments:
Post a Comment