SILUET
MASA LALUKU
“Kenapa kau melamun?”
Tanya suamiku membuyarkan lamunanku.
“Ehm,
perasaanku tidak enak saja. Kau masih banyak kerjaan Mas?”
Kataku sambil membelai wajah lelah suamiku.
“Belum,
Kau tidur saja dulu. Sudah larut malam tidak baik untuk kesehatanmu.” Katanya
sambil mencium keningku.
Aku
masih saja diam menatap dan memandangi wajah suamiku. Entah kenapa akhir-akhir
ini perasaanku selalu saja tidak enak. Mungkin aku terlalu khawatir akan
situasi Negara saat ini. Suamiku seorang Jendral Bintang Lima dan pasti akan
terus terlibat urusan Negara. Dia lelaki yang sangat sederhana, idealis dan
taat beribadah. Dia juga pekerja keras, bahkan sampai larut malam pun dia masih
bekerja di ruang kerjanya. Suamiku seorang yang aktif dan selalu bersemangat ikut
dalam gerakan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Aku sangat mencintainya.
“Pah.
Bagaimana perkembangan tugasmu?” Tanyaku serius padanya.
“Tak
usah kau pikirkan itu. Itu pekerjaanku. Kau pikirkan saja masalah keluarga.” Katanya
tersenyum manis sambil menatapku.
“Tapi
aku takut suatu saat pasukan-pasukan itu menangkap dan menyakitimu.” Kataku
sambil menatapnya sendu.
Suamiku
hanya tersenyum dengan tatapan teduh seakan berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Tok.. tok.. tok… Suara
seseorang mengetuk pintu ruang kerja suamiku. Aku bergegas membukakan pintu.
“Selamat malam, maaf
mengganggu Bu. Pak Nas ada?”
“Ada. Kau masuk saja
Pierre, biar aku buatkan teh panas untuk kalian.”
“Iya. Terima kasih Bu
Johana.”
Aku berlalu ke dapur
membuatkan mereka berdua teh. Pierre pemuda yang gagah dan tampan, dia juga
pintar. Ajudan suamiku. Pierre baik dan setia pada keluarga kami. Hubungan kami
dan Pierre juga sudah seperti keluarga. Seperti biasa, tiap malam juga mereka
akan sibuk di ruang kerja membicarakan masalah Negara.
Sepuluh menit aku
kembali membawakan mereka berdua teh panas dan
camilan. Sepertinya mereka malah tidak membahas masalah serius. Suamiku juga
malah menggoda Pierre yang katanya sedang jatuh cinta. Aku juga ikut berbicara
dan mendengarkan cerita mereka.
“Bagaimana dengan gadis
cantik itu Pierre?” Kataku sambil menyodorkan secangkir teh panas untukknya.
“Baik Bu Johana. Saya
berniat menikahinya November nanti.” Katanya sambil tersipu malu.
“Gadis yang mana? Apa
dia gadis yang kau kenal saat bertugas di Medan dulu?” Tanya suamiku ikut
menyelidik.
“Iya Pak.” Jawab Pierre
tegas.
“Oh iya Pah, tadi sore
ada surat dari Pak Soekarno. Ajudannya bilang besok beliau ingin bertemu dengan
Papah dan Perwira lainnya.” Kataku sambil memberikan surat yang aku letakkan di
rak bukunya.
“Baiklah. Pierre,
tolong besok kau kabari semua Perwira dan minta mereka berkumpul untuk menemui
Soekarno.” Kata suamiku pada Pierre.
“Siap Pak.
Laksanakan!!” Kata Pierre mantap.
Kami semua kembali
sibuk menggoda Pierre dan kisahnya dengan gadis cantik yang dia ceritakan pada
kami. Namun sayangnya cinta Pierre dan gadis itu tidak disetujui oleh Mama
Pierre. Aku tahu watak Mama Pierre, dan aku juga sangat akrab dengan Mama Piere
bahkan Mamanya pula yang mengusahakan agar Pierre jadi ajudan suamiku. Katanya
tak tega jika harus melihat Pierre terus-terusan bekerja sebagai Intelejen dan
bolak-balik harus terus membahayakan keselamatan nyawanya.
Pierre juga meminta izin
cuti dari suamiku. Besok usai bertugas dia akan pulang ke Semarang untuk
menemui Mamanya dan berencana meminta izin agar direstui dengan Rukmini, gadis
yang dia cintai. Tentu saja suamiku mengizinkannya. Dia juga bilang pada Pierre
agar tidak menyerah memperjuangkan cintanya. Sama seperti saat sedang memperjuangkan
Negara Indonesia.
Aku jadi teringat dulu
sebelum kami menikah. Waktu itu aku dan suamiku bertemu saat dia sedang bermain
tenis. Dan aku menemani Bapakku bermain tenis. Aku juga terpesona dengan
kelembutan hatinya saat aku mulai dekat dengannya. Suara tangis anakku terdengar
keras memanggil namaku “Mamaaaaaaa,
Maaaa.” Aku segera bergegas ke kamar dan menenangkannya.
“Sudah malam, kau
istirahatlah Pierre. Aku juga ingin istirahat, masih banyak tugas yang menunggu
kita esok.” Kata suamiku pada Pierre.
Mereka berdua bergegas
beristirahat. Suamiku juga menyusul ke kamar. Pierre memilih tidur di ruangan
jaga yang ada di halaman belakang ruang kerja suamiku. Dia bilang ingin berjaga
saja takut ada yang masuk dan menyusup ke rumah. Malam juga semakin larut dan
semua beristirahat.
*****
Menjelang azan subuh
aku bangun. Anakku Ade Irma entah kenapa terus-terusan menangis. Aku mencoba
menenangkanya. Aku membangunkan suamiku untuk salat subuh.
“Pah, bangun sudah
subuh.” Aku menepuk pelan wajah suamiku.
Tiba-tiba saja suara
kegaduhan terdengar dari ruang tamu. Derap langkah sepatu juga keras menghentak
lantai. Suara orang mendobrak pintu dan berteriak-teriak memanggil nama
Nasution suamiku. “Nasution keluar
kau!!!” Kata seseorang di luar sana. Suaranya makin berisik. Sepertinya
mereka beramai-ramai. Suara dobrakan pintu dan beberapa vas bunga yang pecah
juga makin terdengar.
Aku membuka sedikit
pintu kamar dan mengecek keadaan. Ya Allah, Pasukan Cakrabirawa datang. Aku
tahu pasti mereka mau menculik beberapa Perwira. Dengan segera aku membangunkan
suamiku. Suamiku langsung bangun dan mengambil senjata yang dia letakkan di
atas lemari.
“Pah, kau kabur saja.
Mereka semua mencarimu. Aku mohon selamatkan dirimu.”
“Tapi Ma, aku tidak
bisa meninggalkan kalian begitu saja.” Kata suamiku sudah bersiap dengan
pistolnya dan hendak keluar.
“Pah, dengarkan aku.
Kami akan baik-baik saja, kau kabur saja. Loncat dari jendela kamar. Mereka
tidak akan menyakiti aku dan anak kita. Mereka hanya mencarimu dan para Perwira
lainnya.”
Suamiku masih saja
terdiam malah menatapku tidak tega. Aku bergegas menggendong anakku Ade Irma.
“Pah, apa yang kau
pikirkan. Cepat pergi!!” Aku mohon.” Kataku sambil menangis.
“Aku mencintaimu.” Kata
suamiku.
“Aku juga mencintaimu.”
Suamiku mencium anakku
dan mengusap air mataku. Dia langsung bergegas loncat dari jendela dan berlari.
Aku berteriak memanggil Pierre. Pasukan Cakarabirawa bahkan sudah mendobrak
pintu kamarku. Pierre, Pierre!!
Tubuhku sudah gemetar. Lututku serasa tak bisa menopang berat badanku. Aku
menangis sambil menggendong anakku, Ade Irma yang juga terus menangis
ketakutan.
Pierre datang sambil
membawa pistol di tangannnya. Dia berusaha melindungiku dan Ade Irma. Pasukan Cakrabirawa
juga menodongkan pistol ke arah kami. Mereka berteriak dan membentak-bentak
menyebut nama suamiku “Di mana
Nasution!!” Kata seorang anggota pasukan Cakrabirawa berteriak galak.
Pierre masih menodongkan pistol. “Apa kau
yang bernama Abdul Haris Nasution?” Kami masih diam tidak menjawab.
Ddoorr!! Tanpa kami duga
salah satu anggota pasukan Cakrabirawa itu menembakkan satu peluru dan mengenai
anakku Ade Irma. Aku menjerit semakin takut dan menangis. Aku memeluk tubuh Ade
Irma erat. Tubuhnya bahkan sudah berlumuran darah. Pierre dengan sigap melepas
tembakan ke salah satu anggota yang menembak anakku. Suasana semakin tegang.
Mulut pistol sama-sama mengarah ke kami dan siap ditembakkan lagi.
“Sekali lagi, di mana
Nasution!!” Kata salah satu anggota pasukan Cakrabirawa.
“Aku Nasution.” Jawab
Pierre dengan tegas.
Ya Allah, tubuhku
semakin gemetar. Aku tidak menduga kalau Pierre ajudan suamiku akan berkata bahwa
dialah Nasution. Apa yang kau lakukan Pierre. Setiamu pada suamiku bahkan
sampai membuatmu mengaku bahwa kaulah Nasution. Dengan sigap semua pasukan itu
mengikat tangan Pierre dan membawanya pergi entah ke mana. Suamiku masih belum
kembali. Aku meminta bantuan pada salah seorang teman untuk membawa anakku ke
rumah sakit. Namun sayang, putriku sudah meninggal.
Fajar itu di tanggal 1
Oktober 1965 benar-benar membuat
hatiku pilu. Aku terus mencari kabar tentang suamiku dan Pierre. Kabar
mengejutkan datang, Pierre ajudan suamiku ditemukan meninggal bersama enam Jenderal TNI-AD
lainnya. Di antaranya Letjen A. Yani, Mayjen Soeprapto, Mayjen S. Parman,
Mayjen Haryono M.T., Brigjen D.I. Pandjaitan, dan Brigjen Soetojo
Siswomihardjo. Mereka
ditemukan meninggal di sumur tua di daerah Lubang Buaya.
*****
Peristiwa yang sudah
bertahun-tahun silam itu masih sangat lekat di otakku. Hingga kini aku hidup di
sisa umur tuaku. Mas Nas meninggal lima tahun lalu di usianya yang ke 82 tahun.
Aku terus mencintainya. Sosok suami yang baik, taat beribadah dan punya hati
yang lembut. Seorang Jenderal Bintang Lima yang bijaksana dan selalu punya
pemikiran idealis untuk bangsanya. Hari ini kemilau senja indah menemaniku yang
sedang mengunjungi pusara suamiku. Aku membelai nisan suamiku, Abdul Haris
Nasution.
Aku masih ingat saat
peristiwa pemakaman Pierre dan enam Perwira lainnya. Aku melihat suamiku
menangis merasa bersalah. Baru kali itu seumur hidupku bersama suamiku, aku melihat
suamiku menitikan airmata. Anakku, Ade Irma semoga kau tenang. Dulu ataupun
sekarang, kau selalu jadi gadis kecil Mama. Maafkan Mama yang tak bisa
menjagamu. Mama rindu padamu, Mama juga rindu saat kau selalu merengek minta
cokelat dari Om Pierre. Kemudian kalian berlarian dan bercanda berebut cokelat.
Dan kau Pierre Andreas
Tendean seorang Perwira gagah dan tampan, yang pernah dengan rela mengaku dan
tegas berkata “Akulah Nasution”,
semoga kau juga damai di alam sana. Maafkan kami atas meninggalnya dirimu
Pierre. Usia muda dan kisah cintamu bahkan harus kau tinggal demi pengabdianmu
pada suamiku. Aku juga selalu kagum saat kau berkata tegas “Siap Pak, laksanakan!!” untuk semua perintah suamiku yang
diberikan padamu. Maaf juga karena itu kau harus membatalkan mimpi indahmu
untuk menikah bersama gadis cantikmu, Rukmini.
Mas Nas, aku
merindukanmu. Biarkan semua menjadi siluet masa laluku. Kini di usia senja ini
aku akan melewati hidupku bersama semua kenangan bersamamu. Lembutnya hatimu
dan canda tawamu akan selalu melekat di hatiku. Cinta dan kasih sayangmu juga
akan selalu aku simpan. Kini senja melintas di depan mataku. Semilir angin
berhembus damai membelai wajah keriput tuaku. Warna orange itu indah Mas. Masih
sama seperti dulu saat kita menatapnya bersama. Aku mencintaimu Mas. Aku pamit
pulang.