quote soe hok gie
“Manusia
dibentuk oleh ambisi mengenai masa depan, dibentuk oleh kenyataan-kenyataan
kini, dan pengalaman-pengalaman masa lampau. Seorang pun tak dapat membebaskan
dirinya dari masa lampau. Pengalaman-pengalaman pribadi memberi warna pada
pandangan dan sikap hidup seorang untuk seterusnya.” (Soe Hok Gie)
“Baru-baru
ini seorang OKD (Organisasi Keamanan Desa) memukul tukang becak. Kita kasihan
pada OKD yang penakut itu. Mereka, untuk menutupi kekecilan-nya (cuma OKD) berlagak
seperti jendral. Sebenarnya mereka adalah seorang yang penakut. Orang yang
berani karena bersenjata adalah pengecut. (Soe Hok Gie, Catatan SeorangDemonstran, Sabtu 12 Desember 1959)
“Nobody
can see the trouble I see, nobody knows my sorrow.” (Soe Hok Gie, Catatan
Seorang Demonstran)
“Bagiku
ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: 'dapat mencintai,
dapat iba hati, dapat merasai kedukaan'. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih
dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum
sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan
itu maka absurdlah hidup kita.” (Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran)
“Lebih
baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.” (Soe Hok Gie)
“Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib
terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan
tersial adalah umur tua.”( Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, hal. 96)
“Tapi sekarang aku berpikir sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau
ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. seseorang mau berkorban buat sesuatu,
katakanlah, ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah ia berkorban
buat tidak apa-apa.” (Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, hal. 101)”
“Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa
Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi
pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia
yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya
sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.”(Soe Hok Gie)
“Dunia
ini adalah dunia yang aneh. Dunia yang hijau tapi lucu. Dunia yang kotor tapi
indah. Mungkin karena itulah saya telah jatuh cinta dengan kehidupan. Dan saya
akan mengisinya, membuat mimpi-mimpi yang indah dan membius diri saya dalam
segala-galanya. Semua dengan kesadaran. Setelah itu hati rasanya menjadi lega.”(
Soe Hok Gie)
“Saya
mimpi tentang sebuah dunia dimana ulama, buruh, dan pemuda bangkit dan berkata,
“stop semua kemunafikan ! Stop semua pembunuhan atas nama apapun.. dan para
politisi di PBB, sibuk mengatur pengangkatan gandum, susu, dan beras buat
anak-anak yang lapar di 3 benua, dan lupa akan diplomasi. Tak ada lagi rasa
benci pada siapapun, agama apapun, ras apapun, dan bangsa apapun..dan melupakan
perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih
baik.” (Soe Hok Gie)
“Karena
aku cinta pada keberanian hidup” (Soe Hok Gie)
“Hanya
ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk
jadi manusia merdeka”( Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran)
“Kami
jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah
manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin
tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai
sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air
Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari
dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan
fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” (Soe Hok Gie, Catatan
Seorang Demonstran)
“Dan
seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti
kita melupakan yang mati untuk revolusi
(Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, hal.93)
“Makhluk
kecil kembalilah. Dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu.” (Soe
Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran)
“Ketika
Hitler mulai membuas maka kelompok Inge School berkata tidak. Mereka
(pemuda-pemuda Jerman ini) punya keberanian untuk berkata "tidak".
Mereka, walaupun masih muda, telah berani menentang pemimpin-pemimpin gang-gang
bajingan, rezim Nazi yang semua identik. Bahwa mereka mati, bagiku bukan soal.
Mereka telah memenuhi panggilan seorang pemikir. Tidak ada indahnya (dalam arti
romantik) penghukuman mereka, tetapi apa yang lebih puitis selain bicara
tentang kebenaran.” (Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran)
“Aku
kira dan bagiku itulah kesadaran sejarah. Sadar akan hidup dan kesia-siaan
nilai.” (Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran)
“Bagiku
ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: 'dapat mencintai,
dapat iba hati, dapat merasai kedukaan'. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih
dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum
sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan
itu maka absurdlah hidup kita.” (Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran)
“The
eagle flies alone” (Soe Hok Gie, Sekali Lagi :Buku Pesta dan Cinta di Alam
Bangsanya)
“Potonglah
kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan
padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.” (Soe Hok Gie)
“Tetapi
kenang-kenangan demonstrasi akan tetap hidup. Dia adalah batu tapal daripada
perjuangan mahasiswa Indonesia, batu tapal dalam revolusi Indonesia dan batu
tapal dalam sejarah Indonesia. Karena yang dibelanya adalah keadilan dan
kejujuran.” (Soe Hok Gie)
“Kita
tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak'kan pernah kehilangan apa-apa” (Soe Hok
Gie, Sekali Lagi :Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya)
“Yang
paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba
hati, dapat merasai kedukaan” (Soe Hok Gie)
“Kebenaran
hanya ada di langit dan dunia hanyalah palsu dan palsu.” (Soe Hok Gie, Catatan
Seorang Demonstran)
“Tetapi
aku mempunyai kesadaran yang teguh, bahwa “let the dead, be dead. There are man
and women so lonely. They believe, god is now we.” (Soe Hok Gie)
“Nasib
terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang
tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang
mati muda.” (Soe Hok Gie)
“Aku
tidak percaya bentuk Tuhan apa pun, kecuali yang sesuai dengan idealku sendiri.
Aku pun tak yakin (pasti malah) tentang ke-tak-ada-annya nasib. Juga tak
percaya kita juga. Dewasa ini aku berpendapat bahwa kita adalah pion dari diri
kita sendiri sebagai keseluruhan. Kita adalah arsitek nasib kita, tapi kita tak
pernah dapat menolaknya. Kita asing, ya kita asing dari ciptaan kita sendiri.
Itulah aku kira mengapa kita harus belajar sejarah dan dalam hal ini mengapa
aku pesimis.” (Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran)
soe hok gie
soe hok quotes
kata bijak soe hok gie