Monday, 15 September 2014

KITA UNTUK SELAMANYA


“Bergegaslah kawan tuk sambut masa depan, tetap berpegang tangan, saling berpelukan. Berikan senyuman tuk sebuah perpisahan. Kenanglah sahabat, kita untuk selamanya.” Begitu sekiranya lirik lagu yang baru saja aku dengar.

Kau tahu bagaimana rasanya? Yah, serasa siluet tentang semua kenangan itu meracuni syaraf-syaraf otakmu. Perjuangan, kebersamaan, sedih, tawa, duka dan lain sebagainya sudah melekat di kita.

Kita? Sekali lagi, aku hanya takut menghadapinya. Kalian terlalu berarti. Tapi kata seseorang, “Tuhan tahu, jika kalian terus bersama, kalian tidak akan cepat berhasil. Maka dari itu lewatilah, kalian akan sukses.” kata-kata itu cukup membuatku sesenggukan di meja tempat aku tepekur diam, pagi ini.

“Besok kita pergi ya, okey jam berapa? Beneran loh ya?” begitu kata-kata yang sering kita ucap jika kita merencanakan sesuatu. Dan inilah kebiasaan kita, maka keesokan harinya semua rencana itu gagal. “Hahahah.” Kita hanya bisa tertawa untuk gagalnya rencana pergi bersama itu. “Tak apa.” Itu yang biasa kalian bilang.

Tapi hari ini, entah esok dan seterusnya, aku rasa tak akan ada lagi kata “tak apa.” Batinku, hanya akan ada airmata dan mulut yang terbungkam setelah kita mendengar kata pergi. Tinggal menunggu detik, menit, jam atau bahkan hari dan bulan. Perpisahan? Aku bahkan tak berani menyebutnya begitu. Bukankah setelah ini kita akan bertemu lagi, mungkin dengan keadaan yang jauh berbeda.

“Waahh, kau sudah menikah?”
“Iya, keluargamu bagaimana, sehat?”
“Alhamdulillah, duh anakmu cantik-cantik ya.”

Aku tersenyum sedikit getir membayangkan itu. Sebuah nama yang kita bentuk secara tak sengaja. Sebentar lagi . . . . . Aaaah aku takut mengatakannya. Dan setidaknya izinkan aku tetap memakai nama itu. Entah sampai kapan aku juga tidak tahu, yang jelas aku suka nama itu. Tak perlu arti seperti yang kita susun dulu. Cukup hanya sebuah kata yang mewakili kita, iyaaa kita!!

*****


Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546

SALAM KISAH KLASIK

Sore, di stasiun kereta. Itulah isyarat perpisahan. Aku menatapnya lamat-lamat. Tak ada lagi yang namanya janji persahabatan. Harusnya dari awal pun aku sadar bahwa ini semua hanyalah sebuah kisah klasik tentang pertemanan. Dan yah, hari inilah kenyataannya.

“Satu bulan lagi aku akan menikah, apa kau mau datang ke pernikahanku? Ucapnya sembari manatapku.
“Untuk apa aku harus datang, aku bisa mengacaukan perasaannya.” Kataku tersenyum getir.
“Tapi bukankah kau . . .”
“Iya, aku temanmu. Tapi bukan temannya, walaupun aku . . . .”
“Menganggap aku dan dia kakakmu?”

Kereta sudah penuh sesak dengan penumpang. Suara pemberitahuan keberangkatan penumpang membumbung di lorong-lorong stasiun. Memotong waktu yang tak ingin berlalu.

“Pergilah.”
“Kau akan tetap jadi sahabatku meskipun aku nanti sudah menikah dengannya.”
“Tapi dia tak akan mengijinkan itu.”

Kereta perlahan mulai menjauh. Sam masih berdiri mengamping di pintu, menatapku. Tangannya melambai, senyumnya enggan mengucap kata perpisahan. Tapi harus aku katakan, selamat tinggal Sam.

***** 

Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546